Monday, September 26, 2016

Nyaris Ketinggalan Pesawat

Untung selama ini baru nyaris saja ketinggalan pesawat, tapi belum pernah benar-benar ketinggalan pesawat. Tapi rasanya tetap saja bikin jantung dag dig dug.
Sebetulnya saya termasuk tipe orang yang selalu datang 2 jam sebelum boarding. Tapi ada saja yang diluar kendali kita.

Nyasar:

Pengalaman saya nyaris ketinggalan pesawat saat akan liburan ke Bangkok. Sebetulnya saya dan teman-teman sudah menyisakan waktu cukup jauh untuk perjalanan dari Jakarta kota k bandara Soekarno Hatta. Tapi sebelum ke bandara saya harus menjemput 1 orang teman di kantornya yang juga akan ikut dalam trip ini. Sialnya waktu dalam perjalanan ke Soetta, kami nyasar. Awalnya kami akan menggunakan GPS, tapi karena menurut teman saya dia tau jalan jadi engga jadi pakai GPSnya. Setelah beberapa lama, saya dan 3 teman lainnya mulai merasa kami hanya berputar-putar saja di jalan kecil. Loh ini kok engga sampai-sampai. Jangan-jangan nyasar deh ini. Tiba-tiba teman saya yang awalnya menunjukan jalan bilang dia lupa jalannya.. Gubrakkk... setelah berputar-putar hampir 1 jam kami akhirnya menggunakan GPS, dan sampai di Soetta mepet ke jam boarding. Sampai Soetta ternyata kami salah terminal.. Duh harus muter lagi. Untungnya masih ada waktu untuk check in dan tidak ketinggalan pesawat.

Masih mau keliling-keliling, minum kopi, dompet hilang, boarding pass hilang:

Pengalaman nyaris ketinggalan pesawat yang lainnya masih dari trip saya ke Bangkok. Kali ini kami nyaris ketinggalan pesawat untuk pulang ke Jakarta.
Kalau ini karena kesalahan kita sendiri sih. Dari Bangkok seharusnya kami langsung ke bandara, tapi kami pikir masih ada waktu lumayan untuk ke Pattaya. Akhirnya kami singgah dulu di Pattaya dan masih sempat makan siang disana berfoto sebentar di pantainya. Sampai disitu masih tidak ada masalah, kami pun segera menuju bandara menggunakan bus. Sesampainya di bandara Suvarnabhumi salah satu teman di rombongan kami ada yang masih ingin lihat-lihat keliling menggunakan BTS (Sejenis MRT), waktu itu 3 jam menuju take off. Kami sudah ingatkan nanti bisa ketinggalan pesawat, waktunya terlalu mepet. Tapi karena teman saya ini keukeuh ya sudah deh kita biarkan saja. Dengan resiko kalau dia belum datang sampai waktu boarding, maka akan kita tinggal. Akhirnya teman saya pergi keliling lagi ditemani 1 teman kami yang lain. Sisanya saya dengan 2 teman cewe pergi cari makan di bandara. Saat sedang makan tiba-tiba salah seorag teman saya ini sadar dompetnya engga ada. Dia pun langsung panik, uang, dan kartu indentitas semua ada disana. Untungnya passport di simpan di tas. Kami pun menelpon 2 orang teman kami yang tadi sedang keliling-keliling MRT untuk segera kembali ke bandara. Sesampainya mereka di bandara, saya dan 2 orang lainnya pergi ke bagian informasi  untuk melaporkan kehilangan dan untuk meminta bus yang kami tumpangi untuk di cek apakah ada dompet tertinggal. Tapi ternyata setelah di cek tidak ada dompet tertinggal di bus itu. Untuk menghilangkan panik, kami sempat ngopi sebentar, saat waktu sudah hampir mendekati waktu boarding kami segera akan beranjak ke loket. Lho, ini teman saya 1 orang malah ada yang baru pesan kopi saat kami akan berangkat. hadeeuuuhhh... kami tunggu sebentar, sampai akhirnya karena minum kopinya yang tidak beres-beres, kami minta dia menyusul, karena kami akan check in duluan. Sampai di loket untuk check in, waktu sudah semakin mepet. Kami semua pun check in, teman saya yang sedang mgopi tadi akhirnya bisa menyusul kami. Loket airlines yang kami gunakan ada di lantai 1, sedangkan untuk gate pesawat ada di lantai 2. Saat kami sudah melewati gate check ini dan tiba-tiba salah satu teman saya sadar boarding pass nya hilang. Waduh apalagi ini, kok bisa sampai hilang kan dari tadi di pegang. 
Jadilah dia turun lagi ke bawah untuk print ulang boarding pass. Saat dia kembali waktu take off sudah semakin dekat, salah satu dari kami lari paling depan untuk bisa sampai ke pesawat duluan, agar bisa meminta staff maskapai untuk menunggu sisa 4 orang penumpang lagi, yaitu kami. Saya pun san 3 orang lainnya lari-lari menuju pesawat dan ternyata gate check in ke gate pesawat jauuuuuhhh banget.
Dan benar saja kami adalah penumpang terakhir yang masuk pesawat, untungnya karena 1 teman kami sudah sampai di pesawat lebih dulu, dia yang meminta pramugari untuk menunggu karena kami sudah dekat ke arah pesawat.
Anyway saat kami lari-lari itu, sempat ada pengumuman ditemukan sebuah dompet, kayanya sih itu dompet teman saya, tapi berhubung  sudah hampir ketinggalan pesawat, teman saya akhirnya meng- ikhlaskan saja dompetnya tetap di Bangkok.
Setelah kejadian itu kami kapok untuk mepet-mepet check in  dan mepet datang ke bandara sebelum boarding.

Hujan, dan kecelakaan

Hujan di beberapa daerah lainnya mungkin biasa saja, tidak mempengaruhi arus lalulintasnya. Beda halnya dengan di Jakarta, hujan artinya macet karena jalanan pasti akan banjir.
Pengalaman nyaris ketinggalan saya baru-baru ini saat saya akan ke Lampung, saya berangkan menggunakan damri dari Bekasi, dengan jarak tempuh biasanya 1.5 jam untuk sampai ke bandara, tapi saya tetap berjaga-jaga dengan mengambil bus damri 4 jam sebelum take off. Saya berangkat jam 4 dari Harapan indah bekasi, dengan ekspektasi seandainya macet pun, saya bisa sampai di bandara jam 7. Suami saya sudah lebih dulu tiba di bandara dan check in, jadi saya sudah tidak perlu check in lagi. Ternyata hujan deras waktu masuk tol cakung dan sudah bisa di prediksi jalanan jadi macet karena hujan, dan ternyata ada kecelakaan juga sehingga macetnya double. Dag dig dug rasanya, karena jam 7 saya baru antri di tol masuk bandara, boarding jam 7.30.
Akhirnya saya berhasil juga sampai pas jam 7.30 sehingga tidak ketinggalan pesawat. Saat terjebak macet di tol menuju bandara, saya membayangkan kapan ya jalur menuju bandara ini bebas macet, jadi orang-orang yang akan ke bandara tidak perlu dag dig dug di jalan takut ketinggalan pesawatnya, karena kalau tidak macet lama waktu tempuh  bisa di prediksi, dan mengurangi waktu yang habis sia-sia di jalan.

Sunday, September 18, 2016

Demi Milkyway, Gotong Kursi Pun Jadi

Si suami ini ceritanya sedang getol belajar kamera barunya, Fujifilm X-A2. Nah iseng-iseng mau coba memfoto milkyway seperti yang sedang banyak di unggah di media sosial. Biasanya milkyway atau galaksi bimasakti, hanya bisa terlihat di tempat yang belum banyak terkena polisi cahaya lampu. Jadi biasanya banyak terlihat di puncak gunung, atau di pantai yang jauh dari keramaian.

Saat itu, saya masih berada di Lintau dalam rangka libur lebaran, dan untungnya daerah Lintau ini bisa di bilang daerah pedesaan yang belum banyak terkena polusi cahaya lampu. Berangkatlah kami berlima, saya, suami dan 3 sepupu ke sebuah lapangan bola di dekat surau. Untuk menuju kesana kami melewati kebun dengan pohon bambu yang masih rimbun, dan di sekeliling lapangan pun pohon-pohon besar masih lebat, hanya ada warung kopi jauh di salah satu ujungnya.
Saat itu waktu meunjukan jam 8 malam, kami coba beberapa kali foto tapi tetep kurang terlihat milkywaynya. Mungkin dikarenakan masih kurang malam. Akhirnya kami kembali ke rumah dengan tekad nanti jam 11 malam kami akan kembali ke lapangan untuk percobaan kedua.

Jam 11 malam, anggota pemburu milkyway berubah formasi karena 2 orang sudah ketiduran, jadi pergilah kami berempat, saya, suami, adik dan sepupunya. Kondisi lapangan sekarang jauh lebih gelap. Salah satu hal penting untuk memfoto milkyway adalah kamera harus menggunakan tripod, karena dibutuhkan waktu beberapa detik untuk proses pengambilan gambarnya. Sedangkan tangan manusia pasti akan bergoyang. Karena kami tidak ada tripod akhirnya kami coba mengambil gambar langit dengan memposisikan kamera di atas kap mobil kami, dan mengganjalnya dengan tisu agar sudutnya pas menghadap langit yang terdapat gugusan bintang galaksi bimasaktinya.

Ternyata memang tidak mudah kalau tidak ada tripod, sudut yang di dapat susah pasnya. Jadilah kami keliling-keliling lapangan mencoba mencari sudut yang pas. Setelah lebih dari 1 jam mencoba mengambil fotonya dan masih kurang bagus, akhirnya kami menemukan sudut yang lumayan pas, hanya saya posisi ini tidak akan bisa kamera di taruh di atas kap mobil. Akhirnya sepupu kami mendapat ide untuk menggunakan bangku warung.
Pergilah dia pergi ke warung yang berada di ujung jauh lapangan, dan kembali ke kami dengan menggotong-gotong kursi warung yang panjang.

Setelah ada kursi ini pun, hasil yang kami dapat tidak langsung bagus. Kami masih mencari-cari lagi posisi yang paling pas untuk mendapatkan gambar yang maksimal. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak datang menghampiri kami, dia menanyakan apa yang sedang kami lakukan dari tadi dia melihat dari warung kopi. Kalau di pikir-pikir pasti memang terlihat aneh sekali, kalau ada orang melihat kami berempat mondar mandir di tengah lapangan dengan menggotong-gotong kursi warung yang panjang (kursinya kami gotong-gotong terus setiap kami pindah lokasi, karena benar-benar berfungsi sebagai tripod) hahahaaa....
Akhirnya sepupu suami saya yang asli orang sana, menjelaskan kami sedang mengambil gambar bintang. Muka bapak itu kelihatan agak bingung juga, mungkin dikira aneh anak jaman sekarang, bintang saja harus di foto sampai berputar-putar lapangan, sambil bawa kursi warung lagi x_x
Tapi akhirnya bapak itu pergi kembali ke warung.

Setelah sesi pencarian milkyway yang ternyata sudah 2.5 jam kami lakukan, akhirnya berikut ini foto yang menurut saya lumayan, berlokasi di lapangan bola di Lintau, diambil dengan kamera Fujifilm X-A2, dan ber tripod kan kursi warung yang di ganjel tisu di bawah kamera.
Picture taken by @gamal_udo

Picture taken by @gamal_udo




The underrated beauty of West Sumatra

Kecantikan yang diremehkan, menggambarkan apa yang saya pikirkan setelah kunjungan saya di Padang selama 1 minggu. Selama ini yang saya tahu mengenai lokasi wisata di Padang sangat amat terbatas, seperti Jam gadang dan bukit tinggi. Tapi ternyata masih banyaaaaaaaaak sekali lokasi-lokasi lainnya yang sangat patut untuk di kunjungi.
Saya tiba di Padang pada malam hari, kebetulan berkesempatan menginap di salah satu hotel yang letaknya menghadap langsung ke samudra Hindia. Begitu sampai saya langsung mencari kuliner sekitar hotel. Banyak tempat makan seafood disini karena lokasinya yang dekat dengan laut. Saya dan keluarga memesan ikan bakar, cumi bakar, udang bakar. Sebagai orang yang tinggal di pulau Jawa, ekspektasi saya menganai seafood yang di bakar adalah seperti ikan bakar dengan bumbu kecap dan di temani cah kangkung sebagai side dish-nya. Tetapi di Padang lain lagi, begitu pesanan saya datang langsung saya tau perbedaanya. Ikan bakar, cumi bakar, udang bakar disini semua menggunakan tambahan olesan santan, dan cabai. Sama seperti kalau kita membeli ayam bakar Padang di warung makan padang. Untuk side dish nya, bukan cah kangkung, melainkan terong yang di balado, daun singkong yang di tumbuk menggunakan santan, dan kemudian ada cocolan sambalnya. Dan rasanya enaaaaaaaaakkkk sekali, seperti ingin nambah terus hahahaa...

Pemandangan dari kamar hotel, langsung menghadap Samudera Hindia
Selama di Padang saya menginap di Lintau, dan sempat semalam di Maninjau. Perjalanan menuju Lintau dari kota Padang memakan waktu sekitar 3 jam lebih. Kalau di Jakarta, perjalanan 3 jam pasti sudah membuat bosan dan stress, tapi disini tidak sama sekali. Jalanannya lancar tanpa macet, pemandangan hijau selalu terpampang di kiri kanan jalan. Selama perjalanan saya perhatikan tidak ada Alfamart maupun Indomart di Padang, yang ternyata memang sengaja di tolak masuk ke Padang agar toko-toko warga tidak tersisihkan. Ini salah satu kearifan lokal yang memang pro rakyat. 

Saya sempat melewati Danau singkarak dalam jalan menuju Lintau, dulu waktu saya masih kecil, saya pernah mengunjungi Danau Singkarak, dan karena luasnya saya mengira kalau itu adalah laut. Sampai juga akhirnya saya di Lintau menjelang Maghrib, karena saat itu sedang bulan Ramadhan, kami pun langsung berbuka puasa. 

Sisa hari berikutnya, saya mengunjungi tempat - tempat yang belum pernah saya kunjungi di Sumatra Barat. 

LEMBAH HARAU

Lokasinya tidak terlalu jauh dari Lintau, dan yang menjadi highlight dari Lembah harau adalah banyaknya air terjun disini. Totalnya ada 7 air terjun yang bisa kita kunjungi, orang lokal menyebutnya sarasah. 
Sayangnya saat saya datang kesana, sedang musim kemarau, sehingga volum air terjunnya tidak terlalu deras. Letak air terjun yang satu dengan yang lainnya bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Di spot air terjun kedua, bahkan ada lokasi flying fox untuk anak-anak. saya membayangkan pasti air terjun-air terjun ini sangat indah sekali jika sedang volum airnya tinggi, karena saat volum airnya kurang saja lokasinya sudah bagus.
Tapi yang disayangkan adalah, banyaknya saya temukan sampah di pinggiran lokasi air terjun. Kebanyakan sisa bungkus makanan pengunjung. Masih kurangnya kesadaran untuk menjaga kebersihan tempat wisata, menjadi salah satu alasan seringnya tempat wisata menjadi rusak dalam waktu singkat.
Rumah gadang di tengah lembah Harau
Pemandangan serba hijau di lembah harau

KELOK 9

Kelok 9 merupakan jalan yang digunakan untuk menghubungkan Sumatra Barat dengan provinsi Riau. Seperti namanya, jalan ini memiliki 9 kelokan yang di batasi dengan jurang, dan di apit 2 perbukitan yang merupakan cagar alam, yaitu Cagar alam Air putih dan Cagar alam Harau. Di antara kedua bukit ini, terbentang sebuah jembatan megah yang berkelok-kelok hingga 6 tikungan. Jembatan ini merupakan salah satu jembatan dengan arsitektur mengagumkan yang pernah saya lihat. Ditambah lagi dengan pemandangan yang mengelilinginya menambah kesan WOW, dari jembatan ini. Dari sini juga saya baru mengerti kenapa wilayah bukit ini disebut bukit barisan, karena terlihat dengan jelas bukit-bukit berbaris-baris sejauh mata memandang. Benar-benar keindahan alam yang luar biasa.

Kelok 9
Jembatan dengan arsitektur yang memukau

DANAU MANINJAU

Amazing, itu sepertinya kata yang cocok untuk menggambarkan danau Maninjau.  Danau ini merupakan danau terluas kedua setelah danau Singkarak, menghampar dengan indah dengan latar belakang gunung di kejauhan. Sarapan saya yang hanya dengan nasi goreng pagi itu terasa sangat istimewa dengan pemadangan di hadapan saya.
Maninjau juga merupakan kampung halaman dari seorang penulis terkenal Buya Hamka, kita bisa mengunjungi rumah beliau yang kini sudah di jadikan Museum Buya Hamka. Dengan suasana Maninjau yang sangat tentram dan nyaman ini, memang sangat cocok untuk mood menulis hehehee...
Saya berkunjung ke Maninjau karena rumah keluarga suami saya ada di sana, dan beruntungnya rumah ini juga langsung menghadap ke Maninjau, dengan hamparan sawah di depannya.
Beruntung sekali orang-orang yang tinggal di Maninjau, Tuhan sudah menganugerahkan keindahan alam seperti ini dan bisa di nikmati setiap hari.
Masih banyak perwasawahan di sekitar Sumatera barat

KELOK 44 (KELOK AMPEK PULUAH AMPEK)

Kelok 44 atau yang di sebut warga lokal sebagai kelok ampek puluah ampek, adalah jalan yang menghubungkan Maninjau dengan Bukit tinggi. Sesuai namanya, jalan ini memiliki 44 belokan curam, yang di setiap belokannya terdapat nomor yang menunjukan kelokan keberapa. Yang membuat jalan ini terkenal karena jumlah kelokannya yang luar biasa banyak dan juga keindahan pemandangan sekitar kelok 44. Dijamin pusing dan mual akan hilang karena terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang jalan yang kita lewati. Tapi jujur saja, menurut saya orang yang menyetir di kelokan ini harus benar-benar orang yang sudah jago nyetir mobilnya, karena dari belokan yang satu ke belokan selanjutnya, kelokan ini berbelok patah.
Danau Maninjau dilihat dari kelok 44

AMBUN TANAI

Begitu kita keluar dari kelok 44, tidak sampai 30 menit kita akan melewati lokasi Ambun Tanai. Lokasinya berada di jalan yang menanjak, di pinggir jalan. Tempat ini memiliki tower bernama Tugu Pandang yang fungsinya untuk digunakan oleh pengunjung yang ingin melihat Danau Maninjau dari ketinggian. Disini juga terdapat taman dengan banyak aneka bunga-bunga yang menambahkan kesan asri. Selain itu juga terdapat taman bermain anak-anak di sisi lain taman. Lokasi ini masih terbilang baru karena baru ada sejak 2014. Untuk masuk ke tempat ini, kita perlu membayar tiket masuk hanya dengan Rp 3.000 saja.
Pemandangan danau Maninjau dari Ambun Tanai

PUNCAK LAWANG

Tempat ini berada di atas lagi dari kelok 44 sebelum menuju bukit tinggi. Disana kita bisa melihat danau Maninjau dari puncak bukit. Selain itu Puncak Lawang juga digunakan sebagai lokasi untuk olahraga paralayang. Awalnya saya ingin kesana, tapi waktu melihat mobil yang sudah mengular parkir hingga memenuhi jalan menuju puncaknya, saya mengurungkan niat. Mungkin lain kali saja, waktu sedang tidak musim liburan seperti sekarang.

JAM GADANG

Gadang yang dalam bahasa minang berarti besar, menggambarkan dengan tepat jam ini. Jam gadang yang berarti Jam besar. Saya dulu berpikir keberadaan jam gadang ini sama seperti Big Ben di Inggris, versi lokalnya. Jam gadang berada di Bukit Tinggi, dan selalu ramai oleh wisatawan. Lokasinya yang berada di pusat kota dan dekat pasar Ateh menyebabkan suasananya selalu padat. Di sekitarnya banyak terdapat toko-toko yang menjual cendramata, cd minang, dan makanan khas minang.
Ini adalah kali kedua saya ke bukit tingi dan mengunjungi Jam Gadang. Jam yang sudah di bangun sejak jaman Belanda ini masih terawat dengan baik. Biasanya kalau ke Padang, orang-orang wajib untuk datang kesini, karena jam gadang salah satu trademark dari kota Padang.
Jam Gadang di Bukit tinggi

Selain tempat - tempat diatas juga masih banyak sekali tempat indah lainnya yang perlu dikunjungi, sayangnya waktu saya singkat sehingga belum bisa mengunjungi semuanya.

Untuk penyuka pantai, 

kalian bisa datang ke pulau Suwarnadwipa, Pulau Sikuai, Pulau Pandan, Pulau Pisang, Pulau Sibunta dan Pulau Sawo.

Untuk tempat non-pantai, 

kalian bisa mengunjungi Istana Pagaruyuang di Batusangkar,  Goa Jepang di Bukit Tinggi, Danau Singkarak di antara Padang Panjang dan Solok, Batu malin kundang di pantai air manis, dan yang saya belum sempat kunjungi tapi ingin sekali saya lihat yaitu Danau Atas Bawah, danau yang terletak di ketinggian bukit yang berbeda sehingga terlihat seperti ada dua danau di atas dan di bawah.

Semoga lain kali saya bisa berkesempatan untuk mengunjungi tempat -tempat wisata lainnya di Sumatra barat. 

Happy travels pals !!


Saturday, May 21, 2016

Estimasi budget Ke Karimun Jawa, transportasi, akomodasi, rekreasi

Kali ini saya mau share sedikit info untuk yang mau ngetrip ke Karimun Jawa. Salah satu yang sering saya dengar soal karimun jawa adalah foto bersama ikan hiu, air lautnya yang jernih, dan jadwal kapal yang sulit di prediksi. Saya berkesempatan jalan-jalan ke Karimun Jawa minggu kemarin saat long weekend karena libur nasional. Dari ketiga hal yang sudah saya dengar sebelumnya, ketiganya memang terbukti benar.
Saat di Karimun Jawa (Karjaw) saya berkesempatan untuk mengunjungi penangkaran ikan hiu, disana kita bisa berfoto di dalam kolam berisi ikan hiu, ikan buntal, bintang laut. Hal kedua yang saya dengar adalah air lautnya yang jernih, dan itu juga terbukti benar, bahkan dari atas kapal kita bisa melihat ikan-ikan di bawah kita dan terumbu karang, karena air yang sangat jernih. Hal ketiga menurut saya paling penting, dan masih sering terjadi, yaitu jadwal kapal yang sulit di prediksi karena ombak besar atau sedang dilakukan pengecekan kondisi kapal, yang sering kali menyebabkan jadwal penyebrangan kapal ditiadakan.
Oleh karena itu kalau mau jalan ke Karjaw, kita harus sudah siap serba extra, Extra waktu, extra tenaga, extra uang. Kalau kapal di cancel penyebrangannya artinya kita harus ikut kapal selanjutnya, itu pun kalau masih ada sisa tiket, kalau tidak ya harus tunggu kapal keesokan lagi, karenanya harus siapka extra waktu. Menunggu pastinya membuat badan lelah, karenanya harus extra tenaga juga. Dan extra uang karena selama kapal delay atau di cancel kita perlu makan dan atau menyewa tempat menginap.
Anyway, langsung saja saya rinci info yang mungkin bisa bermafaat


Transportasi:

Untuk mencapai ke Karimun Jawa ada 2 pilihan, lewat laut atau udara.
1. Lewat laut
1.1. Dari Jepara - ke Karimun Jawa
1.1.1. Kapal ekonomi Siginjai (Rp. 57.000)
     Kapal ini tidak bisa di booking tiketnya, harus beli on the spot, tapi kalau punya kenalan calo tiket, biasanya bisa dapat-dapat aja tiketnya.
Saat mau masuk kapal juga,tiket tidak di cek menggunakan KTP.
Lama perjalanan sekitar 4 jam

1.1.2. Kapal cepat Express Bahari (Rp. 150.000)

      Kapal express bisa di booking, harus menggunakan data KTP karena saat masuk kapal nanti, nama yang tertera pada tiket akan di cek dan harus sama dengan nama pada KTP.
Lama perjalanan sekitar 2 jam.

1.2. Dari Semarang - ke Karimun Jawa

 1.2.1. Kapal cepat KMC Kartini

       Jadwal keberangkatan dari Semarang setiap hari Sabtu
       Harga kelas bisnis Rp. 143.000 sedangkan untuk kelas Eksekutif Rp. 163.000

2. Lewat Udara


2.1. Dari Semarang ke Karimun Jawa

 Maskapai yang menyediakan penerbangan dari bandara Ahmad Yani semarang ke Bandara Dewadaru adalah maskapai Airfast. 
Jadwal penerbangannya setiap hari Senin & Rabu
Lama perjalanan sekitar 40 menit.

2.2. Dari Surabaya ke Karimun Jawa

Maskapai yang digunakan juga sama dengan maskapai di semarang yaitu Airfast.
Lama perjalanan sekitar 80menit.


Untuk perjalanan pulang dari Karimun Jawa ke Semarang / Jepara/ Surabaya, bisa menggunakan pilihan diatas, hanya jadwal harinya yang berbeda.
Seperti pesawat Airfast Karimun Jawa-Semarang, hanya ada pada hari Rabu & Jumat.

Akomodasi selama di Karjaw.

Untuk yang datang menggunakan pesawat, maka bisa menggunakan mobil-mobil pribadi yang digunakan sebagai angkot disana.  Jarak bandara ke pelabuhan sekitar 22 km.
Sedangkan untuk yang datang menggunakan kapal laut, lebih dekatjaraknya ke pusat kota bisa dengan berjalan kaki.

Letak pelabuhan berdekatan dengan alun-laun, dan tidak jauh dari alun-alun terdapat ATM, Kantor polisi, Kantor Telkom, Puskesmas dan kantor pemerintahan.

Listrik & Sinyal Handphone

Disini listrik belum full 24jam, listrik mulai menyala pukul 2 siang sampai pukul 6 pagi. Diluar jam itu, listrik tidak ada, kecuali yang mempunyai generator.
Sinyal HP disini agak sulit didapat, tapi sekarang kita bisa membeli pket wifi di kantor Telkom dekat alun-alun, sehingga masih bisa akses internet.

ATM

Sekarang sudah ada ATM BRI

Penginapan

Mencari tempat meginap di KarJaw ini super duper mudah, karena mayoritas warga Karjaw menyewakan rumahnya untuk penginapan. 
Tempat menginapnya mulai dari disewakan per rumah, atau per kamar. Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan.
Ada penginapan biasa yang berupa kamar-kamar dengan AC atau kipas angin saja, atau bisa juga mencoba menginap di hotel yang lebih luxurious.

Sewa Kapal, Alat Snorekeling, Guide, Foto under water

Biaya sewa Kapal untuk 1-5 orang: Rp. 450.000
Biaya sewa Kapal untuk 1-30 orang: Rp. 700.000
Biaya untuk guide : Rp. 150.000
Biaya Kamera under water: Rp. 150.000
Biaya sewa alat snorekling : Rp. 35.000


Note: 

Menurut saya pulau Karimun Jawa ini salah satu tempat wisata yang sudah memiliki tourism awareness, warga dan pemerintahnya menyadari bahwa daerah mereka adalah daerah wisata, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan wisata disana sangan mudah di dapat.
Contohnya seperti saya yang datang ke Karimun Jawa padahal belum sempat booking penginapan ataupun mencari paket tour keliling pulaunya, tapi di pelabuhan kita akan banyak mennemuan orang-orang yang menawarkan mulai dari penginapan sampai paket tournya.

Jadi tidak perlu takut untuk mengatur trip sendiri di Karimun Jawa.

Untuk yang membutuhkan contact person selama di Karimun Jawa, bisa request nanti saya email.

Main Angklung di Saung Angklung Udjo

Ini sebenarnya agak malu-maluin sih, sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung, baru kali ini saya datang ke Saung Angklung Udjo. Padahal orang dari luar negeri saja sudah banyak yang datang ke sini. 
Anyway, kunjungan pertama ini sangat amat berkesan. Kenapa? Karena sepanjang pertunjukan berjalan sangat atraktif. Durasi pertunjukan adalah 1,5 jam tapi dijamin berasa kurang dan ingin menonton lagi.
Waktu kita pertama masuk di tempat pembelian tiket, kita akan di beri kalung dengan angklung kecil sebagai liontinnya. Kemudian kita bisa langsung masuk ke area pertunjukan. Kursi di sini di susun bertingkat dan melingkar.
Acara dibuka oleh 2 MC cantik yang menerangkan rangkaian acara yang akan kami tonton. Pada 20 menit pertama kita akan disuguhkan pertunjukan wayang golek. Pada pertunjukan aslinya wayang golek biasanya di mainkan selama 7 jam atau semalam suntuk, dan biasanya berbahasa Sunda, namun karena penonton tidak hanya dari orang Sunda, jadi pertunjukan ini di campur dengan menggunakan bahasa Indonesia supaca cerita dapat dimengerti oleh semua penonton. Pertunjukan wayang golek ini juga di selingi dengan komedi-komedi sehingga membuat penonton tertawa dan tidak bosan.

Setelah pertunjukan wayang golek selesai, tiba-tiba dari pinggir panggung masuk rombongan anak-anak membawa berbagai umbul-umbul, kemudian disusul dengan anak-anak yang membawa kuda-kudaan yang biasa digunakan pada pertunjukan kuda lumping, disusul dengan rombongan anak yang membawa angklung, dan 1 anak yang duduk di atas singgasana di arak keliling.
Ternyata itu adalah pertunjukan Helaran, biasanya di adakan saat panen padi atau saat ada anak yang sunatan.

Pertunjukan selanjutnya, saya menyaksikan Tari Topeng yang dimainkan oleh 2 penari belia. Yang menjadi ciri khas dari tari topeng tentu saja penarinya yang meenggunakan topeng, dan juga perbedaan gerakan tari, sebelum menggunakan topeng gerakan mereka lebih gemulai, sedangkan setelah menggunaan topeng tariannya berubah menjadi gagah. Jaman dulu orang pecaya bahwa topeng yang digunakan pada tari topeng memiliki kekuatan magis, sehingga merasuk ke penari saat digunakan. tapi tentunya tari topeng yang saaat ini tidak lagi menggunakan hal-hal magis seperti itu.
video

Pertunjukan dilanjutkan dengan penapilan pemain angklung dari anak-anak kecil. Mereka memainkan berbagai lagu daerah Indonesia, dari Aceh sampai ke Papua. Di akhir pertunjukan mereka membagikan angklung kepada tiap penonton. Ternyata kami sebagai penonton diaak bermain angklung bersama. MC menjelaskan bahwa angklung kami memiliki nomor masing-masing yang menggambarkan tangga nada angklung tersebut. MC memberi gerakan-gerakan tangan yang menunjukan nomor tangga nada agklung kami. Setiap MC menunjukan nomor angklung yang kita pegang,artinya kita harus menggoyangkan angklungkita. Alunan lagu pun mengalun, dari para pemain angklung dadakan ini, yang surprisingly kami memainkan lagu dengan bagus heheheee...
Tidak terasa kami sudah memainkan beberapa lagu dengan arahan MC.

Setelah puas merasakan pengalaman bermain angklung, saya kembali disuguhkan pertunjukan angklung. Namun berbeda dengan pertunjukan sebelumnya, dimana angklung di jejerkaan berdiri dan dimainkan dengna cara di goyang, pertunjukan kali ini angklung di posisikan dalam posisi tidur, dan di mainkan dengan cara di sentuh. Ini adalah angklung modifikasi yang diciptakan oleh aak dai Mang Udjo. Disebut angklung Toel, tol dalam bahasa sunda berarti colek, karena dimainkan dengan sentuhan sedikit saja. Cara mainnya mengikuti cara main piano.

Pada bagian penutup, anak-anak kecil kembali masuk ke tempat pertunjukan dan mengajak penoton untuk maju ke tengah untuk ikut memainkan permainan tradisional Jawa Barat. Rasanya seperti kembali ke masa kecil dulu. Kami bermain diiringi lagu-agu permainan tradisional yng diakhiri dengan lagu sayonara, sampai berjumpa pula.

Di jalan keluar, kita akan melewati toko souvenir yangbisa di beli untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan. Banyak kerajinan tradisonal khas Jawa Barat juga seperti wayang golek, angklung, suling, tapi ada juga barang-barang mini seperti magnet dan pulpen.

Total pertunjukan selama 1.5 jam benar-benar tidak terasa, karena perunjukan yang disajikan sercara menarik dan atraktif. Pokoknya worth it banget, tidak hanya menonton pertunjukan seni tapi juga ikut mendukung keberlangsugan seni tradisonal.


Friday, January 15, 2016

Cara Membuat / Perpanjangan Passport / epassport

Tahun baru, Passport baru

Jadi ceritanya tahun 2016 ini passport saya sudah akan expired, dan kebetulan memang sudah ada niat untuk mengganti passport yang sebelumnya passport biasa jadi epassport.
Kenapa pilih epassport?
Karena bebas biaya visa ke jepang
Punya antrian sendiri di bandara soekarno hatta yang membuat tidak perlu mengantri panjang seperti passport biasa, karena epassport dilengkapi chip yang membuat pemeriksaan tinggal mescan chipnya saja jadi lebih cepat
Pernah baca di salah satu artikel kalau nanti semua WNI akan di wajibkan untuk menggunakan epassport (tapi engga tau realisasinya kapan)

Di bawah ini info mengenai cara pembuatan passport.

Dokumen yang perlu disiapkan
Untuk Dewasa:
  1.  KTP
  2. Kartu keluarga (sesuai dengan KTP)
  3. Akte kelahiran/ Ijazah / Surat Nikah
  4. Paspor lama (bagi penggantian pasport)
  5. Surat kewarganegaraan bagi yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui Pewarganegaraan
  6. Surat penetapan ganti nama dari pejabat yang berwenang (bagi yang sudah mengganti nama)

Untuk anak (dibawah 17 tahun):
  1. KTP kedua orangtua (di fotocopy dalam 1 halaman A4)
  2.  Kartu keluarga (sesuai dengan KTP orang tua)
  3. Akte kelahiran
  4. Akte perkawinan / buku nikah orang tua / akta perceraian dan penetapan hak asuh dari instansi yang berwenang
  5. Paspor lama (bagi penggantian paspor)
Biaya pembuatan passport:

  1. Paspor biasa 48 halaman : Rp. 300.000,-
  2. Epassport 48 halaman       : Rp. 600.000,-
  3. Paspor biasa 24 halaman : Rp. 100.000,-
  4. Paspor biasa 24 Halaman (pengganti yang hilang yang masih berlaku) : Rp. 200.000,-
  5. Paspor biasa 24 Halaman (pengganti yang rusak yang masih berlaku) : Rp. 100.000,-
  6. Paspor biasa 48 halaman (pengganti yang hilang yang masih berlaku) : Rp. 600.000,-
  7. Paspor biasa 48 halaman (pengganti yang rusak yang masih berlaku) : Rp. 300.000.-
  8. Epassport 48 halaman (pengganti yang hilang yang masih berlaku) : Rp. 1.200.000.-
  9. Paspor biasa 48 halaman (pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alam dan awak kapal yang kapalnya tenggelam) : Rp. 300.000.-
  10. Epassport 48 halaman (pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alam dan awak kapal yang kapalnya tenggelam) : Rp. 600.000.-
Semua biaya diatas akan di tambah dengan Rp. 55.000 (untuk biaya biometrik)
Dan di tambah admin Bank Rp. 5.000,-


Note:
  • Persyaratan di atas harus di bawa dokumen aslinya dan juga bawa fotocopy nya di kertas A4 jangan di potong (untuk KTP, fotocopy bagian depan & belakang di 1 halaman A4 yang sama)
  • Untuk penggantian paspor karena hilang, harus diajukan secara langsung dengan melampirkan surat lapor kehilangan dari kantor polisi
  • Saat ini pengajuan epassport tidak bisa online, jadi harus walk in langsung datang ke kantor imigrasi
  • Sebaiknya datang sebelum jam 6pagi ke kantor imigrasi untuk mendapat nomor awal antrian.
  • Passport biasa akan jadi dalam 3 hari kerja, setelah pengajuan. sedangkan epassport akan jadi dalam 5 hari kerja
  • Pengambilan passport yang sudah jadi boleh diwakilkan dengan menyertakan surat kuasa
  • Passport yang sudah jadi tapi belum juga diambil dalam 30 hari, maka akan di musnahkan.


Saya datang tanggal 5 January kemarin, saya pikir karena masih awal tahun jumlah orang yang datang ke kantor imigrasi tidak akan terlalu banyak. Tettt toottt... salah total. Saya sampai di kantor imigrasi Jakarta selatan jam 6 pagi, dan di depannya sudah banyak orang yang mengantri. Karena kantor imigrasi baru akan mulai beroperasi jam 8 pagi, jadi kami yang sudah datang diberi nomor antrian sementara oleh pihak imigrasi. Mendekati jam 8 kami diminta mengantri sesuai dengan nomor antrian dan KTP kami di kembalikan. Di loket pengambilan nomor antrian, dokumen persyaratan kita akan diperiksa, kalau dianggap sudah lengkap kemudian kita di diberi map berisi lembar pengajuan yang harus diisi. Disini akan di tanya apakah akan buat passport biasa atau epassport, kalau kita jawab akan buat epassport kertas pengajuan kita akan di cap epassport.
Waktu duduk di kursi tunggu, seorang pegawai imigrasi sudah stand by di depan kami dengan microphone membantu menjelaskan cara pengisian lembar pengajuan passport.
Oh iya, good things about this new process in immigration, sekarang process nya OSS (one stop service), jadi kita cuma akan proses di 1 meja saja sampai selesai dan prosesnya cepat, kurang dari 15 menit. Hal positif lainnya, pada jam istirahat ada 1 loket yang tetap melayani untuk masing-masing nomor antrian.
Ada 5 jenis nomor antrian:

  • Antrian dengan Nomor : 1-xxx (bagi lansia, difabel, dan BATITA
  • Antrian dengan Nomor : 2-xxx (Bagi jenis pemohon datang langsung / Walk in)
  • Antrian dengan Nomor : 3-xxx (Bagi pemohon online)
  • Antrian dengan Nomor : 5-xxx (Bagi pengambilan passpor)
  • Antrian dengan Nomor : 6-xxx (Bagi pemohon passport hilang /  rusak / perubahan data pada halaman identitas)
Setelah selesai di foto, kita akan diberi selembar form untuk pembayaran di bank BNI.
5 hari kemudian saya kembali ke kantor imigrasi, dan loket untuk pengambilan passport baru buka jam 10. Jadi kita tidak perlu datang pagi, setidaknya jam 9.30 kita sudah disana, karena antrian untuk pengambilan passport baru dilakukan mendekati jam 10.
Tidak sampai 15 menit, epassport saya sudah ditangan, dan passport lama juga dikembalikan, jadi bisa untuk kenang-kenangan hehehee...

Overall, saya puas dengan pelayanan kantor imigrasi Jakarta selatan, karena staff-staff disana sangat membantu, prosesnya juga jelas.

Friday, December 11, 2015

Sakit sambil jalan-jalan

Sakit memang sesuatu yang tidak bisa dihindari karena sangat manusiawi. Tapi bagaimana kalau sakitnya saat traveling? Sepanjang yang saya ingat sepertinya 3x saya traveling di kondisi yang tidak fit.
Pertama beberapa tahun lalu saat saya traveling ke Bangkok, waktu itu suara saya habis karena gejala flu yang bikin serak.
Sialnya saya yang sering tanya-tanya kalau tersesat jadi ribet sendiri, karena setiap mau bertanya harus mengumpulkan suara dulu. Jadi tidak bisa bebas bicara juga dengan pemilik hostel untuk ngobrol-ngobrol. Untungnya waktu itu cuma suara hilang saja, tidak termasuk gejala flu lainnya seperti demam, pusing dan hidung meler. Jadi badan masih oke-oke saja untuk di bawa berjalan keliling-keliling.

Pengalaman sakit yang kedua, waktu saya naik gunung Prau akhir tahun lalu di bulan Desember. Waktu itu memang sedang musim hujan, penyakitnya sama lagi flu juga. Tapi karena sudah terlanjur janji akan naik gunung, saya tetap hiking walau tenggorokan sudah mulai perih gejala batuk. Well, naik gunung di kondisi flu itu sangat tidak recommended, (ya iya lah yaaaa...) saya merasakan sendiri napas yang biasanya normal jadi lebih cepat capek, dan tenggorokan yang perih itu bikin bawaanya ingin minum terus, belum lagi mata juga jadi panas.

Alhamdulillah, perjalanan sampai puncak aman sentosa. Walaupun dari awal pendakian sudah di guyur hujan. Sampai puncak ternyata sudah lumayan banyak tenda yang berdiri, entah karena memang baru di guyur hujan atau memang karena badan kurang fit, sampai di puncak saya langsung cari tenda terdekat milik teman saya yang sudah berdiri, rasanya dingin sekali sampai gigi berbunyi karena gemetar kedinginan.
Ternyata malamnya saya demam, saya sih tidak sadar juga. Cuma teman yang tidur di sebelah saya yang bilang semalam saya seperti mengigau, dan saat di pegang ternyata saya demam. Untungnya di waktu pagi saya sudah lebih baik.

Pengalaman sakit saat traveling yang ketiga waktu saya ke pulau Pari, sebetulnya ini masih kelanjutan sakit saat di gunung Prau. Ternyata pulang dari gunung Prau batuk-bauk saya makin parah. Sudah 2 bulan tidak hilang-hilang juga, biasanya kalau sakit flu saya hanya butuh berjemur di bawah matahari lalu flu nya hilang. Timbulah ide saya butuh ke pantai, supaya bisa sembuh (padahal memang maunya ke pantai) hehehee... 

Jadilah saya searching open trip ke pulau seribu dengan harga terjangkau dan bisa di lakukan saat weekend jadi tidak menghabiskan cuti. Setelah 2 hari disana ternyata batuk tidak hilang juga, hmmm.. apa karena panas mataharinya sedang kurang poll ya, akibat agak mendung. Yang bikin kurang asik soal batuk ini soalnya setiap saya makan malah batuk, yang ada jadi tidak menikmati makanan selama di pantai. Akhirnya saya menyerah deh, setelah 3 bulan batuknya hilang sendiri. Ini mungkin yang sering di sebut orang dengan batuk 100 hari, harus sampai 100 hari dulu baru batuknya hilang. Untung bukan batuk 100 tahun hiiiiyy... amit-amit