Monday, July 1, 2013

1 DAY TRIP (PULAU KELOR, PULAU CIPIR, PULAU ONRUST)

29 Juni 2013

Tiap mau weekend, pasti bingung mau ngapain. Pilihan paling sering itu biasanya pulang ke Bandung. Tapi berhubung baru minggu kemarin saya ke Bandung, jadi minggu ini rencananya mau di Jakarta aja. Kebetulan dapat ajakan dari temen saya yang ngajak untuk ikut 1 day trip ke 3 pulau di kepulauan 1000. Trip ini lebih ke tema jalan-jalan sejarah, dengan mengunjungi 3 pulau yang memiliki bangunan – bangunan peninggalan sejarah. 3 pulau yang akan saya kunjungi itu adalah pulau Kelor, pulau Cipir, dan pulau Onrust. Yang bikin saya mau ikut trip ini selain karena saya memang suka jalan-jalan ke tempat sejarah, faktor lainnya adalah harga yang ditawarkan cukup murah yaitu hanya 99ribu aja.

Meeting point waktu itu adalah di Muara Kamal, saya pergi bersama dengan 3 orang teman saya yang lain. Sesampainya saya di muara Kamal, saya bertemu dengan anggota kelompok lainnya yang juga akan pergi mengikuti trip ini. Jam 8 kami berangkat menggunakan kapal penyebrangan. Sangat di sayangkan keadaan perairan di Muara Kamal yang hitam dan banyak sampah. Tetapi semakin jauh ke tengah air semakin jernih dan berwana hijau, tetapi sayangnya tetap saja saya melihat ada satu-dua sampah dari bungkus makanan (snack). 

PULAU KELOR


Dari Muara Kamal ke Pulau Kelor hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Begitu mendekati pulau Kelor, hal pertama yang paling terlihat adalah bangunan seperti benteng yang sebagian bangunannya mulai runtuh. Walaupun sebagian bangunannya sudah hancur, tapi tetap saja bangunan ini terlihat mengagumkan. Benteng ini bernama Benteng Martello.
Reruntuhan Benteng di pulau Kelor langsung terlihat begitu kapal mendekat
Ukuran pulau ini cukup kecil, karena itu warga menyebutnya pulau Kelor seperti daun kelor yang juga tidak lebar. Luas pulau ini kurang dari 2 hektar, sehingga untuk berkeliling hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Tapi tentunya untuk melihat-lihat reruntuhan benteng ini bisa jadi waktu yang dihabiskan lebih dari 15 menit.
Pemandangan laut terlihat dari dalam benteng
Di sebagian pinggiran pantai banyak terdapat beton pemecah ombak, untuk mengurangi abrasi. Saya juga melihat reruntuhan dinding bata yang sudah runtuh ke sisi pantai. Dinding – dinding bata ini adalah dinding dari benteng, sedangkan bagian benteng yang saat ini masih terlihat berdiri sebenarnya adalah bagian dalah dari benteng itu sendiri. Jadi bentuk asli dari benteng ini sebenarnya jauh lebih besar dari bentuk yang bisa dilihat saat ini. Tapi karena abrasi terus menerus akhirnya benteng bagian luarnya pun runtuh.
Benteng Martello


PULAU CIPIR (PULAU KHAYANGAN)

Setelah puas melihat-lihat pulau Kelor, pulau selanjutnya yang saya datangi adalah Pulau Cipir (Pulau Khayangan). Pulau ini pada jaman Belanda dulu digunakan sebagai tempat karantina dan rumah sakit bagi jemaah haji. Seluruh calon jemaah haji dari seluruh Indonesia akan dikumpulkan terlebih dahulu di pulau ini untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Dan jangan lupa bahwa pada waktu itu untuk pergi haji, calon jemaah tidak menggunakan pesawat, akan tetapi menggunakan kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan.

Artileri peninggalan Belanda
Setelah mereka selesai pulang dari ibadah haji, mereka harus kembali dikarantina di pulau ini. Selain untuk di cek kondisi kesehatannya juga sebenarnya ada maksud lain dari pemerintah Belanda. Belanda khawatir dengan gerakan Islam di Arab akan berpengaruh kepada para Haji ini sehingga ajan memberontak Belanda sepulangnya dari ibadah haji. Ternyata dari sini juga asal mulanya gelar haji diberikan pada orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji. Gelar haji hanya ada di Indonesia, karena waktu dulu orang-orang yang sudah kembali dari ibadah haji dan di karantina oleh pemerintah Belanda, akan diberikan gelar haji itu.
Reruntuhan bekas rumah sakit calon haji

Saat saya berkeliling pulau ini, sebagian besar adalah reruntuhan bangunan beton dikelilingi pepohonan rimbun. Berbeda dengan pulau Kelor yang tidak terlihat kehidupan selain manusia yang datang untuk melihat-lihat, di pulau Cipir banyak terdapat kucing dan ayam, bahkan ada seekor monyet. Saya jadi penasaran kapan kucing dan ayam pertama tiba di Pulau itu dan siapa yang membawanya hehehee…

Di salah satu ujungnya terdapat sebuah jembatan yang sudah runtuh, dulunya jembatan itu menghubungkan Pulau Cipir dengan Pulau Onrust. Di salah satu bagian bangunan yang sudah runtuh,, terdapat kamar dengan jendela menghadap pantai. Saya membayangkan jaman dulu waktu keadaan bangunan itu masih bagus, mungkin orang yang menempati kamar itu tiap bangun tidur pemandangannya enak bisa langsung lihat laut.
Di pulau cipir terdapat 1 warung, dan juga terdapat toilet. Jadi lumayan untuk makan siang bisa beli di warung itu.

PULAU ONRUST

Setelah selesai berkeliling pulau Cipir, saya menuju pulau terakhir yaitu Pulau Onrust. Onrust diambil dari bahasa belanda yang berarti tidak pernah beristirahat, atau dalam bahasa inggrisnya Unrest. Jaman Belanda dulu, masyarakat sekitar juga menyebutnya sebagai pulau Kapal, karena seringnya kapal-kapal datang ke pulau ini.

Dulunya pulau ini menjadi markas Belanda sebelum berhasil mengambil alih Jakarta. Tapi kemudian pulau ini juga dijadikan sebagai asrama haji sebelum diberangkatkan ke Arab, agar mereka mampu beradaptasi dengan udara laut. Menurut guide, pulau Onrust pada jamannya sangat terkenal, mungkin seperti Bali versi colonial Belanda.

Pulau Onrust saat ini 85%nya mungkin hanya berupa puing-puing bangunan. Masih menurut guide yang mengantar saya berkeliling di Pulau Onrust, bangunan-bangunan di pulau ini rusak akibat dijarah orang warga sekitar. Mereka mengambil material-material bangunannya, dan yang tersisa saat ini adalah material-material yang tidak terpakai. Jaman dulu bentuk barak berbentuk seperti rumah panggung dengan pancang di bawahnya, saat ini hanya tinggal pancang betonnya saja yang masih terlihat.

Sisa reruntuhan tempat karantina Haji

Yang unik dari tata bangunan di pulau ini adalah adanya yang disebut pagar anti tikus. Pagar anti tikus ini berupa beton yang di tanam ke bawah tanah untuk menghindari tikus masuk rumah dengan cara menggali tanah, dan dibagian atas beton ini di pagari. Hal ini dilakukan karena dulu pernah terjadi wabah tikus di pulau ini hingga menewaskan warga disana. Tapi saat ini yang terlihat hanya bagian betonnya saja.
Sisa pagar anti tikus
Pulau onrust mungkin adalah museum terbuka terbesar di Indonesia, dan satu – satunya pulau sejarah yang juga digunakan sebagai museum. Di salah sau bangunan yang masih berdiri, dan saat ini digunakan untuk menyimpan sisa – sisa jaman Belanda dulu, kita bisa melihat boomerang, maket tata kota pulau Onrust, dan maket kondisi kota setelah terkena letusan Gunung Krakatau.
Maket tata kota di Pulau Onrust
Maket keadaan kota di Pulau Onrust setelah terkena letusan Krakatau
Juga ada beberapa foto masa lalu dari Pulau Onrust. Bangunan penjara juga masih bisa dilihat disini, dan ada satu bagian melingkar seperti kolam ikan di ruangan terbuka yang ternyata dulu fingsinya adalah untuk arena bertarung para tahanan. Jadi sama seperti yang terjadi di jaman gladiator dimana tahanan di adu untuk saling berkelahi hingga mati.


Area bertarung untuk para tahanan
Ternyata di pulau ini terdapat lorong bawah tanah, yang gosipnya lorong ini terhubung hingga pulau Kelor dan ada juga gossip yang bilang bahwa di bawah itu terdapat emas yang ditimbun. Tapi sayangnya jalan menuju lorong itu sudah ditutup demi alasan keselamatan.

Disini juga terdapat beberapa komplek kuburan, ada bagian kuburan pribumi yang dulunya dalah pemberontak pribumi yang akan melawan Belanda menggunakan kapal Zeven Provincien pada tahun 1933. Mereka memberontak karena tidak adilnya sistem penggajian oleh pemerintah Belanda, dimana pribumi diberikan gaji lebih rendah dibandingkan orang Belanda dan orang Cina. Selain itu juga makam pribumi ini digunakan untuk para calon haji yang meninggal di pulau ini. Selain komplek pemakaman pribumi, ada juga komplek makan khusus orang Belanda. Jika orang yang meinggal adalah orang dengan strata tinggi, maka diatas kuburannya akan ditutup dengan batu alam.

Ada cerita horor di pulau ini yang terkenal yaitu penampakan seorang wanita Belanda bernama Maria. Maria meninggal tahun 1719 mengenakan gaun pengantinnya saat menunggu kekasihnya yang tidak juga datang, dan ternyata kekasihnya sudah meninggal terlebih dulu. Kita bisa melihat kuburan Maria di komplek makam Belanda. Diatas makamnya tertulis puisi dalam bahasa Belanda.
Batu alam di atas makam Maria dengan ukiran puisi dalam bahasa Belanda
Dan yang agak membuat saya kaget ternyata di pulau Onrust ini adalah lokasi makam dari Kartosuwiryo. Kartosuwiryo adalah kepala pemberontakan DI/TII atau saat ini dikenal dengan NII, yang ingin membuat Indonesia menjadi negara Islam.

Dibanding dengan 2 pulau sebelumnya, berkeliling pulau Onrust ini lumayan bikin cape juga ternyata. Untungnya disini terdapat beberapa warung bambu bahkan ada musola dan toiletnya juga. Perjalanan selesai setelah jam 3 sore, dan kami kembali ke kapal untuk menuju Muara Kamal, kembali ke pulau Jawa. Ternyata lokasi ketiga pulau ini tidak jauh dari Jakarta, bahkan saat di pulau Onrust, saya bisa melihat gedung-gedung tinggi yang sedang dibangun di Jakarta.

Over all, perjalanan hari ini bener-bener engga rugi. Dari pada ngabisin weekend di Jakarta pergi ke mall, ngabisin duit buat belanja, mending jalan-jalan sambil mengenal sejarah negara sendiri kan hehehee…




WISATA GOA PINDUL, TAMAN SARI, MASJID BAWAH TANAH, INDISCHE KOFFIE RESTO

26 Mei 2013

Hari kedua di Jogja, tujuan utama saya dan teman-teman adalah Goa Pindul.  Lokasinya yang berada di gunung kidul, memakan waktu sekitar 1 jam dari Malioboro.  Untuk ke Goa Pindul sulit jika menggunakan angkutan umum, kareenanya saya menyewa mobil dan teman saya dari Backpacker Indonesia  (BPI) yang menjadi guide sekalian supir heheheee….
Semakin dekat ke tujuan, kita kaan melihat banyak orang berdiri di pinggir jalan. Mereka adalah penunjuk jalan untuk menuju ke Goa Pindul. Ternyata wisata alam Goa pindul ini dikelolah oleh beberapa pihak. Tiap pihak mempunyai guide masing-masing yang stay tune di pinggiran jalan menuju arah lokasi wisata. Dan para guide penunjuk jalan ini gratis.
Kawasan wisata Goa pindul adalah salah tempat wisata bagian dari Desa wisata Bejiharho, Karangmojo, Gunung Kidul. Di desa wisata ini terdapat beberapa pilihan paket wisata.


Pilihan paket wisata di Goa Pindul
Waktu itu karena waktu kami terbatas, dan sudah kesepakatan awal dengan teman yang lain ingin ke Goa Pindul, akhirnya kami mengambil paket Caving ke Goa Pindul. Per orang dikenakan biaya Rp.30.000,-.
Mobil offroad yang digunakan untuk menuju lokasi wisata
Briefing sebelum masuk ke air
Setiap orang diberikan jaket pelampung, dan 1 ban besar untuk di duduki. Selama perjalanan menyusuri Goa pindul, Guide akan menjeleskan tempat-tempat yang kami lalui. Seperti dimana lokasi sarang Kelalawar, atau tempat kelelawar kawin, atau buang air. Ada juga stalaktit yang terlihat patah, menurut guide hal ini dikarenakan diatas goa terjadi banjir, sehingga stalaktit engga kuat untuk menahan beban air yang terlalu besar. Sayang banget ngeliatnya stalaktit itu patah karena kerusakan hutan sampai terjadi banjir.
Di ujung Goa ada spot untuk foto dan lompat dari batu yang bisa di panjat. Perjalanan untuk berkeliling Goa pindul tidak terlalu lama, sekitar 15 menit.

Selesai dari Goa pindul saya melanjutkan mengjungi Taman sari. Jaman dulu tempat ini digunakan untuk pemandian para putri. Untuk masuk kesini kita perlu membayar Rp.2000 kalau melewati pintu depan. 
Taman sari tempat mandi para putri jaman dulu

Area Taman sari





Peta daerah Taman sari & Masjid Bawah tana


Dari taman sari kita bisa lanjut mengunjungi Masjid bawah tanah. Lokasi Masjid ini berada di tengah daerah pemukiman warga, jadi kalau sudah nyasar biasanya saya nanya aja ke warga yang ada disitu. Pasti dengan ramah akan dibantu menunjukan jalan ke Masjidnya. Masjid ini berbentuk lingkaran, di bagian tengahnya ada bagian terbuka seperti panggung. 
Masjid bawah tanah dengan bentuk lorong melingkar


Dulunya digunakan oleh Muadzin untuk Adzan. Di salah satu tembok terdapat cekungan kedalam yang digunakan sebagai tempat imam.

Disekeliling Masjid sudah dijadikan rumah-rumah warga. Di salah satu rumah kita bisa melihat cara pembuatan batik ada juga cara pembuatan wayang.


Salah satu pengrajin wayang di daerah sekitar Taman sari
Tempat terakhir yang dikunjungi adalah sebuah restoran di dalam benteng VREDEBURG. Belum banyak yang tau mengenai restoran ini, namanya Indische Koffie. Tempatnya berkesan klasik gaya colonial dulu. Menu yang dihidangkan dari makanan dan minuman tradisional jawa, hingga makanan internasional.
  Restoran Indische Koffie                                     

Sayangnya waktu itu saya sudah hampir ketinggalan kereta karena waktu yang mepet, saya engga bisa lama-lama disana. Jadi minuman yang sudah dipesan juga terpaksa di take away.
Begitu sampai stasiun, saya harus lari-lari dengan teman-teman saya karena kereta sudah mau berangkat. Untungnya kami berhasil naek kereta 3 menit sebelum kereta jalan fiuuuhhhh…
Kalo pergi liburan di Jogja emang engga akan cukup kalau cuma 2 hari, lain kali semoga bisa lebih lama waktu liburannya hehehee…







Monday, June 17, 2013

Waisak 2013

Acara perayaan Waisak yang diadakan setiap tahunnya di Borobudur mungkin memang sudah menjadi salah satu kegiatan keagaamaan yang menarik minat orang-orang untuk melihat dan menjadi bagian dari ritualnya. Apalagi setelah film Arisan 2 menampilkan scene perayaan Waisak di Borobudur dan belum lama ini film Java Heat juga ikut mengambil scene Waisak di Borobudur, hal ini menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah wisatawan yang ingin datang dan menyaksikan langsung acara Waisak di Borobudur.
Saya juga menjadi salah satu orang yang tertarik untuk melihat secara langsung kegiatan perayaan Waisak di Borobudur ini. 2 bulan sebelumnya saya memesan tiket kereta tapi karena engga kebagian kereta ekonomi terpaksa akhirnya saya membeli tiket ekonomi AC untuk pergi pada Jumat malam (24 Mei) dan kembali pada Minggu malam (26 Mei).

Kereta berangkat dari Stasiun Senen, dan satu kereta penuh oleh orang-orang lain yang juga ingin pergi mengunjungi Borobudur untuk melihat perayaan Waisak. Kereta berangkat dari Jakarta jam 18.55 dan tiba di Stasiun Tugu (Yogyakarta) di jam 03.28.
Untungnya rombongan saya yang terdiri dari 5 orang cewe ini sudah di jemput oleh teman dari Forum Backpacker Indonesia (BPI).  Selama 2 hari di Jogja kami menginap di rumah neneknya. Begitu sampai Jogja, kami diantar untuk makan dulu di gudeng Mbah Djum. Tempat makan lesehan khas Jogja  yang buka dari tengah malam ini menyajikan Gudeg dan pelengkapnya. Disini kita bisa memilih apa mau makan dengan nasi atau dengan bubur. Karena masih terlalu pagi, jadi saya pesan bubur dengan gudeg aja supaya perutnya engga kaget ehehehee….


Setelah sampai rumah tempat kami menginap dan mandi, jam 9 teman saya datang menjemput untuk mengantar kami ke Borobudur. Sempat beredar kabar bahwa jalan menuju Borobudur akan ditutup jam setengah 10 pagi dan setiap orang yang mau mengikuti acara waisak harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Sempat aga panik juga sih karena kami sudah pasti terlambat dan sampai lebih dari setengah 10, kami juga engga ada yang melakukan registrasi sebelumnya. Tapi kami keukueh pokoknya datang aja dulu kesana. 

Untungnya teman dari BPI ini orang Jogja asli yang tau jalan-jalan kampung supaya kita bisa masuk ke Borobudur tanpa melewati jalan utama yang sudah pasti macet total. Kami sampai di Borbudur jam 11 siang. Daaaannnn ternyata siapapun boleh masuk dan mengikuti acara Waisak, engga perlu melakukan registrasi..Fiuuuhhhh….

Upacara Waisak baru dimulai pada 6.30 malam, jadi kami pergi berkeliling Candi Borobudur dulu pada siangnya. Harga tiket masuk ke Candi Borobudur adalah Rp.30.000,- Begitu masuk area Borobudur, sudah banyak turis-turis lain, mulai dari turis yang hanya ingin mengunjungi Borobudur, turis non Budhis yang mau melihat perayaan waisak, dan umat-umat Budha sendiri yang akan mengikuti prosesi Waisak.
Sebetulnya prosesi waisak dimulai dari Pengambilan api suci di Candi Mendut, kemudian dilanjutkan berjalan kaki dari candi mendut hingga Borobudur. Jam 3 siang panggung dan area untuk prosesi Waisak nanti malam sudah disiapkan.

Jam 5 sore, iring-iringan dari Mendut sudah memasuki kawasan candi Borobudur. Area Candi Borobudur sudah dipenuhi oleh para fotografer, reporter, dari luar dan dalam negeri. Wisatawan yang datang juga banyak yang datang dari luar negeri.


Iring-iringan membawa hasil bumi

Para Biksu yang mengikuti prosesi dari Candi Mendut
Waktu 1,5 jam sebelum jam upacara dipergunakan untuk memberi waktu istirahan kepada para Biksu dan rombongan yang sudah mengikuti prosesi dari Candi Mendut. Jam 7 malam, kami sudah bisa mulai membeli lampion yang berharga 100 ribu per buah nya ini. Hasil penjualan lampion, 100% akan disumbangkan oleh pihak Walubi. Jadi kita membeli lampion sambil itung-itung beramal. Saya dan teman saya membeli 1 lampion untuk bertiga, maklum ga bawa banyak duit ehehehee..

Panggung persiapan Waisak 2013
Di setiap lampion nanti kita diberi kertas untuk menuliskan permohonan kita, kertas itu nantinya ditempel pada lampion dan di terbangkan. Acara ngaret hampir 1 jam, dikarenakan menteri agama dan gubernur Jateng yang waktu tu seharusnya memberikan pidato pembuka belum juga datang. Borobudur saat itu sudah mulai turun hujan deras. Keadaan mulai chaos ketika Gubernur dan Menteri datang, banyak pengunjung yang meneriakan “huuuuuuuu” kepada para pejabat yang terlambat itu.

Sebetulnya sangat disayangkan, banyak turis yang datangnya sekedar datang dan mengejar moment pelepasan lampion saja. Sehingga tindakan mereka selama acara menurut saya sangat menggangu. Seperti tertawa-tertawa, bercanda, ngobrol keras saat prosesi yang seharusnya khusyuk. Jujur saja saya kecewa karena sebetulnya saya ingin menjadi bagian dari acara Waisak yang khusyuk. Bukan seperti acara main-main. Turis-turis seperti inilah yang menghilangkan kesakralan acara Waisak itu sendiri. Saya merasa engga enak juga kepada para umat Budha yang terganggu acara keagamaannya.

Patung Budha diatas panggung, menjadi pusat cahaya dengan latar belakang Borobudur 
Hujan engga berhenti malah semakin deras, sampai akhirnya panitia mengumumkan bahwa hari itu pelepasan lampion terpaksa di batalkan, karena dengan hujan deras seperti itu engga mungkin lampion bisa terbang. Mirisnya beberapa orang terdengar marah-marah karena hujan sehingga tidak bisa melihat lampion terbang. Kalau menurut saya yang harusnya paling punya hak kesal mungkin adalah umat Budha itu sendiri, karena acara keagamaan mereka telah terganggu.
Saya engga tau apa tahun depan, acara Waisak masih akan di buka untuk umum atau tidak. Tapi seandainya masih dibuka untuk umum, semoga turis-turis yang datang sudah diseleksi sebagai turis yang memang pintar, bukan turis yang bikin rusuh dan engga tau aturan.

NB:
1. Untuk mengetahui jadwal kereta bisa dilihat di www.kereta-api.co.id
2. Pemesanan kereta bisa dilakukan secara online lewat www.kereta–api.co.id atau bisa juga di Alfamart, Indomart
3. Untuk tau jadwal kegiatan acara Waisak tiap tahunnya bisa di cek di web resmi Walubi www.walubi.or.id
4.  Sinyal HP sangat jelek di area Borobudur, akan sedikit sulit jikta terpencar. Jadi sebelumnya lebih baik buat meeting point kalau terpencar

Wednesday, May 29, 2013

Traveling dari Jakarta ke Phuket 3 hari 3 malam (Part 2)



(Lihat: Traveling Jakarta- Phuket (Part 1))


Hari ke-2
Hari kedua, sama dengan pagi sebelumnya, kami sarapan dulu di sevel eleven. Lalu dijemput minibus travel untuk dibawa ke pelabuhan Phuket. Hari itu kami mengikuti one day tour ke Krabi Island. Harga tour untuk krabi Island ini lumayan lebih tinggi dibanding dengan harga tour ke pulau lainnya karena jarak yang lebih jauh, dan juga nanti kami akan naik speed boat. Awalnya kami naik kapal fery yang digabung dengan beberapa turis dengan tujuan pulau yang berbeda – beda, bisa dilihat dari stiker yang tertempel di pakaian mereka. Kami diturunkan di Nopparat Thara Beach dan berganti menggunakan speed boat. 

Perjalanan menggunakan speed boat sangan menyenangkan, wajah kita sering terkena air cipratan karena kapal bergerak sangat cepat dan kadang kita terlompat dari kursi saat kapal melewati ombak. Spot snorkeling pertama adalah Chicken Island, disebut chicken island karena bentuknya yang seperti ayam.
No wonder lah disebut chicken Island
Spot snorkeling di Chicken island ini menurut saya lebih bagus dibandingkan dengan Maya Beach. Selain karena lebih sepi, juga schooling fish yang saya temui lebih banyak. Setelah puas ber-snorkeling, kami diantar ke Railay island untuk makan siang. Seperti tour sebelumnya, makan siag hari ini juga berbentuk buffet, dan makan sepuasnya. Untuk yang muslim, tidak perlu khawatir karena makanannya halal. Karena masakan Thailand tidak berbeda jauh dengan makanan Indonesia, jadi semua hidangan yang dihidangkan pas di lidah.

Dekat tempat makan itu, kita bisa menjangkau Tap island, yang kebetulan saat itu air laut sedang surut sehingga kita bisa menyebrangi lautnya untuk mencapai pulau lainnya yaitu Mor Island. Saat sedang berjalan di antara dua pulau itu, tiba-tiba air pasang, sehingga saya dan beberapa orang lainnya terpaksa harus mempercepat langkah kami, kalau tidak mau kebasahan seluruh barang bawaannya dan saya juga tidak mau kalau harus berenang untuk sampai ke pulau Mor. Untung kami tiba di pantai sebelum air benar-benar pasang. 

Pemandangan di sekitar kepulauan Krabi memang sangat membuat takjub. Air yang berwarna gradasi dari hijau, biru muda hingga biru tua. Selain itu juga kepulauan ini dikelilingi pulau-pulau lain yang memiliki karang-karang tinggi di masing-masing pulau seperti menara. Setelah puas berfoto-foto dan relax di Mor island, kami di jemput speed boat untuk pindah ke Poda Island. Pantai yang terkenal di pulai ini adalah Railay beach. Disana saya melihat sesuatu yang tidak biasa, yaitu sebuah perahu tradisional Thailand yang digunakan untuk berjualan makanan dan tidak lupa di pasangi papan harga.
Perahu yang dijadikan tempat berjualan
Untuk yang mau mencoba olahraga panjat tebing, disini juga ada spot untuk melakukan olahraga ekstrim itu. Di salah satu ujungnya terdapat Phra Nang Cave (Princess cave). Terdapat 2 gua kecil yang saling bersebelahan, di dalamnya banyak sekali replika alat kelamin pria, kedua gua ini sering dijadikan tempat berdoa bagi pasangan yang ingin mendapatkan keturunan, seperti sepasang turis asing yang juga berdoa disana. Di Poda Island ini juga terdapat sebuah gua karang terbuka yang dikelilingi batu-batu tinggi, tapi perlu hati-hati untuk naik ke puncaknya karena batuannya licin. Tapi menurut salah satu turis asing yang sudah naik ke puncak hingga ke belakang gua ini, di belakangnya terdapat pantai yang lebih bagus lagi. Poda island adalah pulau terakhir dari one day trip Krabi island.
 
Goa alam di Railay beach
Sisa waktu yang ada, saya habiskan dengan bersantai dibawah pohon-pohon rindang di pinggir patai, sambil memandangi pemandangan biru di depan saya.


Kami pun kembali ke pelabuhan Phuket, dan begitu menaiki travel yang kami pesan, kami minta untuk diturunkan di Bang La Road. Kami berkeliling – keliling di salah satu Mall paling terkenal di Patong yaitu Jungceylon. Disini banyak barang yang murah-murah, juga kita bisa menawar barang-barangnya. Beberapa teman saya mulai kalap waktu berbelanja oleh-oleh disini, karena harganya yang murah, sampai akhirnya perlu mengambil uang di atm dalam mall.

Hari ke-3
Hari terakhir di Phuket, akan  dihabiskan untuk berkeliling tempat wisata yang tidak berhubungan dengan pantai. Pagi jam 8 setelah sarapan, kami di jemput oleh mobil yang sudah kami pesan sebelumnya. Tujuan pertama adalah ke kawasan Robinson. Di dekat Mall Robinson ini banyak terdapat toko di pinggri jalan yang menjual murah barang-barang seperti kaos dan souvenir. Dan untuk harga kaos saya mendapatkan harga lebih murah disini dibandingkan dengan di Jungceylon. Di dalam mall nya sendiri banyak dijual snack khas Thailand seperti keripik durian, dan permen-permen dalam jumlah besar.

Selesai berbelanja di Robinson, teman saya ada yang meminta untuk diantarkan ke tempat penjualan kacang mede berbagai rasa yang terkenal di Phuket. Kami pun diantarkan oleh supir ke salah satunya, yang bernama Sri Bhurapha Orchid. Disini kita bisa membeli berbagai olahan kacang mede. Dari sirup hingga kacang mede berbagai rasa, dari rasa tom yam, BBQ, sapi, garam, dan rasa favorit saya yaitu kacang mede rasa wasabi, yang jika kita makan tidak hati-hati, maka akan menyengat ke hidung kita rasa panasnya.. hahahaa
Kita juga bisa melihat proses pengolahan dari kacang mede yang masih mentah hingga di kupas menjadi kacang mede yang siap makan.

Replika kacang Mede raksasa di depan Sri Bhurapha Orchid
Proses pengupasan kacang mede, bisa dilihat saat datang ke sana

Tujuan selanjutnya adalah kantor pos, karena saya mau mengirimkan beberapa kartu pos untuk teman-teman yang sudah titip untuk dikirimi kartu pos dari Thailand. Waktu saya sampai di kantor pos, si petugasnya tiba-tiba mengajak bicara bahasa Thailand, karena dia mengira saya adalah orang Thailand. Selama 3 hari ini, saya dan teman-teman memnag sering dikira orang Thailand oleh orang Thailand itu sendiri, mungkin karena ras yang masih mirip-mirip.

Masih ada 3 tujuan yang akan kami tuju, sebelum akhirnya berangkat ke airport. Pemberhentian selanjutnya kami minta diantar ke Wat Chalong. Dalam komplek itu terdapat lebih dari satu Wat (temple).

Wat Chalong
Kita dapat melihat beberapa cerobong berbentuk mirip sarang lebah di pelataran Wat, cerobong ini biasanya digunakan untuk menyalakan petasan. Kita bisa membeli petasan di sana dan menyebutkan permintaan kita agar bisa terkabul. kemudian petasan itu di ledakan di dalam cerobong.
Cerobong petasan
Di dalam Wat yang paling besar, pada lantai pertamanya banyak terdapat patung-patung budha dengan berbagai posisi. Ada sleeping budha, maupun patung Budha yang sedang bersila. Di dinding atas tangga, banyak terdapat gambar-gambar yang bercerita tentang kisah dharma dalam agama budha. Di lantai 3, terdapat sebuah kotak kaca yang didalamnya terdapat banyak uang dari berbagai negara tidak hanya uang Bath. Uang-uang ini adalah uang sumbangan para pengunjung.
Patung Budha dalam berbagai pose

Di bagian Wat yang lain, terdapat patung pendeta yang dilapisi dengan kertas-kertas berwarna emas. Jadi pengunjung akan berdoa terlebih dahulu, setelah selesai berdoa, mereka akan menempelkan kertas - kertas emas di patung-patung itu.

Setelah mengelilingi semua wat yang ada disana, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Big Budha. Letaknya yang berada di puncak gunung membuatnya menjadi patung Budha terbesar dan tertinggi yang ada di Phuket. Kita bahkan bisa melihatnya dari jalan menuju wat chalong.

Perjalanan menuju ke Big Budha cukup berliku karena lokasinya yang berada di puncak gunung. Faktor jalan yang berkelak kelok ditambah cara mengemudi supir Thailand, membuat saya dan teman-teman mual selama perjalanan.Akhinya kami sampai juga di kompleks Big Budha.Kompleks ini belum 100% selesai, sehingga masih banyak terlihat kayu-kayu penahan dari patung-patung dan bangunan yang ada.
The Big Budha Statue

Dari sini, kita bisa melihat pemandangan kota dari atas. Disini juga menjadi titik nol dari Phuket, ditandai dengan adanya sebuah pancang menandakan titik nol km Phuket.

Kita juga dapat melihat beberapa monyet yang tinggal di taman dalam kompleks itu. Di dalam gedung begitu kita memasuki area kompleks, kitabisa melihat sejarah dibangunnya kompleks Big Budha ini. Disana juga di pajang berbagai mata uang dari berbagai negara. 

Setelah puas berkeliling, kami menuju tujuan terakhir sebelum airport yaitu pantai Nai Yang Bay. Lokasinya sangat dekat dengan airport hingga kami bisa melihat jika ada kapal yang mendarat. Pantai Nai yang, kalah jauh jika dibandingkan dengan paintai di kepulauan Krabi.

Setengah jam kemudian kami pun segera menuju bandara yang bisa dicapai dalam kurang dari 15 menit. Kami pun kembali ke Indonesia dengan selamat :)

Traveling dari Jakarta ke Phuket 3 hari 3 malam (Part 1)

Udah lama sebenarnya saya ingin ke Phuket, Rencana ini sudah ada dari 2010, tapi apa daya berhubung tiketnya lumayan mahal, bisa sampai 3 juta untuk tiket PP langsung Jakarta-Phuket-Jakarta, jadi rencana ini saya tunda dulu. Hingga sampai satu hari saya mendapat email tentang promo Air Asia yang salah satunya adalah promo penerbangan PP Jakarta-Phuket-Jakarta.

Saya langsung menghubungi 3 teman SMA saya Kiki, Uji dan Dae, karena sebelumnya kami sudah mempunyai rencana ke Thailand. Begitu mereka langsung Ok, saya langsung membooking tiket untuk 4 orang. Waktu itu harga tiap orang Rp. 1.222.000,- untuk tanggal keberangkatan hari Minggu 20 Januari dan kepulangan 23 Januari.

Begitu tiket sudah di dapat, selanjutnya adalah menentukan itinerary dan akomodasi selama di sana. Setelah beberapa minggu mencari yang paling murah maka kami membuat estimasi budget seperti di bawah ini:
1.      Tur Phi phi island : 900 bath
2.      Tur Krabi Island : 1400 bath
3.      Tiket nonton Simon Cabaret : 800 bath
4.      Hostel : 840 bath (3malam)
5.      Mobil : 750 bath (1 hari)
6.   Makan selama 450 bath (3 hari)
Mendekati hari H, terjadi musibah banjir di Jakarta. Kantor saya sampai diliburkan dari hari Kamis-Jumat, karena semua sarana jalan menuju kantor terhalang banjir. Tiga teman saya lainnya berdomisili di Bandung, jadi tidak berpengaruh dengan adanya banjir. Untungnya hari Minggu, air di sekitar jalan yang saya lewati sudah mulai surut. Semua berjalan lancar, hingga kami tiba di Airport internasional Phuket jam 7.25 malam, tiba setengah jam lebih awal dari schedule yang tertera di tiket.

Begitu keluar dari imigrasi kami langsung menemukan stand sebuah provider lokal disana yang menawarkan kartu telpon gratis. Banyak orang mengantri disana untuk mendapatkan kartu telpon dan mengaktifkan layanan blackberry mereka. Untuk paket Blackberry full tanpa paket sms dan telpon selama 3 hari, kita harus membayar 100 bath. Tapi saya memilih tidak mengganti kartu telpon saya, sedangkan 2 teman saya lainnya yang menggunakan android memilih menggunakan kartu telpon lokal ini untuk mengindari roaming international.

Begitu keluar pintu bandara, supir travel yang kami pesan sudah menunggu dengan papan nama. Supir travel kami bernama Jack, bukan nama sebenarnya sih, tapi dia minta dipanggil Jack. Bahasa inggrisnya sulit dimengerti, dan dia juga tidak terlalu mengerti bahasa inggris kami ahahahaaa..
Hostel tempat kami menginap di daerah Phuket Town
Sampailah saya di penginapan bernama Lub Sbuy. Sudah agak sepi malam itu, padahal baru jam 21.30. Kami menginap di Phuket town karena dekat dengan pelabuhan, dimana kami selama 3 hari rencananya akan berkeliling pulau-pulau sekitar Phuket. Ternyata daerah Phuket town memang tidak ramai kalau malam hari, daerah yang ramai adalah di Patong untuk kehidupan malamnya. Saya dan teman saya menyewa 1 kamar dengan 2 tempat tidur tingkat untuk kami berempat.

Hari ke-1

Jam 7 pagi kami pergi ke seven eleven untuk membeli sarapan, untungnya lokasinya sangat dekat dengan hostel tempat kami menginap. Jam 8 pagi, kami dijemput dengan minibus dari pihak travel yang kami gunakan, langsung menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan kami diberikan stiker yang digunakan untuk membedakan trip yang kami ikuti. Hari pertama kami mengikuti paket tur Phi Phi island, dan diberikan stiker berwarna hijau. Kapal yang kami gunakan adalah sejenis kapal fery kecil. Selama perjalanan kita bisa melihat banyak karang-karang tinggi di tengah laut yang ditutupi pepohonan. Pemberhentian pertama adalah di Phi Phi don, atau pulau phi-phi. Bagi yang akan menginap di phi-phi don maka mereka turun saat itu. Dari tempat kapal bersandar, saya bisa melihat banyak ikan-ikan berwarna hijau berkumpul dekat dermaga, saking jernihnya air sehingga dari jarak beberapa meter pun masih terlihat. Kemudian tempat selanjutnya yang kami datangi adalah Maya Beach atau orang Thailand sering menyebutnya Leonardo Di Caprio Beach, karena sempat dijadikan salah satu lokasi pembuatan film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio. Disana kami diberikan pelampung dan alat snorkeling, sayang saking banyaknya orang yang nyebur ke laut, ikan-ikan yang terlihat menjadi jarang. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat di spot snorkeling saat itu. 
Snorkeling di Maya Beach (Leonardo Di Caprio Beach)
Setelah puas snorkeling kami kembali ke phi-phi island untuk makan siang. Oh iya, disini kita harus bayar 20bath untuk biaya kebersihan. Makan siang disana gratis karea sudah termasuk kedalam paket tur. Makanannya berbentuk prasmanan, ada spagethi, nasi, ayam asam manis, ayam kari, ikan, buah-buahan, makanan manis sejenis candil tapi khas Thailand, dan masih banyak lagi. Disitu saya benar-benar makan sepuasnya, sekalian balas dendam sarapan yang cuma sedikit, belum lagi sehabis snorkeling rasa lapar jadi bertambah.

Selesai makan kami diberi waktu untuk yang ingin keliling dan shopping di phi-phi island. Saya membeli beberapa postcard titipan dari teman-teman saya di Indonesia. Dan kemudian kami berkeliling pantai sambil berfoto dengan kapal tradisional Thailand.
Kapal Tradisional Thailand, banyak terlihat di pantai
Perjalanan pulang kami habiskan dengan tidur di kapal. Sampai di pelabuhan, saya dan teman-teman sudah ditunggu oleh supir dari tour lain yang kami pesan. Kami segera menuju ke Patong untuk menonton Simon Cabaret Show. Tentunya belum pas kalau ke Thailand tapi belum menonton cabaret warianya. Di dalam ruangan  cabaret, semua penonton dilarang mengambil foto atau video. Saat pertunjukan dimulai munculan beberapa waria yang saat itu saya lihat wajahnya biasa-biasa saja, malah mengingatkan saya dengan waria lampu merah yang saya lihat di Indonesia. Kemudian pertunjukan selanjutnya adalah seorang waria yang terlihat sudah senior dan agak gemuk, mungkin diatas 40 tahun. Dengan lipstick yang tebal, dan menggunakan baju seperti Barbie, menyanyi sambil berkeliling ke penonton. Penonton pria yang dapat jackpot akan kena cium oleh waria ini. Salah satu pria bule sampai ada yang pindah duduk kebelakang karena takut dicium, sementara penonton lain hanya tertawa saja.

Selesai pertujukan itu kemudian lampu sorot mengarah ke ujung panggung, disitu saya kaget melihat waria yang sedang tampil. Karena cantik sekali, dan berpakaian seksi. Pokoknya mirip model Victoria secret yang cantik dan seksi. Ini jauh sekali dengan waria-waria yang pertama kali tampil. Kalau menurut teman saya, mungkin yang tampil saat itu adalah yang melakukan operasi mahal sengingga hasilnya cantik sekali, sedangkan yang sebelumnya operasi murah jadi hasilanya (maaf) seperti waria lampu merah.

Pulangnya kami diantar dengan minibus lagi, dan saat akan naik kami ditanya arah pemberhentian kami. Teman saya bilang Pang Nga road, lokasi hostel kami. Lalu kami santai saja duduk dibelakang bersama penumpang lain. Lalu tidak lama mobil berhenti dan si supir bilang kepada kami ini Pang Nga road. Begitu kami turun, lokasinya benar-benar berbeda dari lokasi hostel kami. Untungnya kondisi ramai, jadi kami sekalian berkeliling melihat-lihat saja. Tidak lama kami melihat papan sebuah toko dan menunjukan nama jalan, ternyata Bang La Road. Ya ampuuuuunnn, ternyata si supir salah dengar yang teman saya bilang Pang Nga road, dia pikir Bang La road. Bang La road berada di Patong sedangkan hostel kami berada di Phuket Town.

Keadaan Patong pada malam hari benar-benar hidup, mirip Kuta di Bali. Banyak penjual souvenir, penjual paket tur, dan restoran dari yang mahal sampai murah. Akhirnya kami memutuskan membeli makan malam, seporsi Tom Yam Goong untuk saya. Yang membuat saya senang adalah porsinya yang besar, dan udang di dalamnya yang besar dan masih manis karena masih segar. Harganya 80 bath.
Porsi besar, dijamin bikin kenyang
Kami juga berjalan keliling Patong, untuk mencari paket tour ke Krabi island yang termurah. Setelah tawar menawar dan membandingkan dari beberapa tempat tour akhirnya kami mendapatkan harga 1400 bath. Intinya, jalan-jalan di Thailand itu harus jago-jago nawar. Biasanya mereka memberi harga berbeda untuk bule dan orang Asia.

Kalau menurut salah satu pedagang India yang saya temui, dia bilang dia selalu memberi harga lebih murah ke turis Asia, karena mereka paham isi kantong turis Asia tidak setebal turis Bule heheheee.

Untuk pulang kami memutuskan untuk naik taxi. Untuk informasi, taxi disana tidak menggunakan argo, sistemnya adalah tawar menawar harga dengan si calo taxi. Akhirnya setelah tawar menawar kami mendapatkan harga 150 bath untuk sampai ke hostel kami. Kejadian yang cukup lucu adalah waktu calo taxi menanyakan tujuan kami, dan nama hostelnya. Kami dengan PeDe menyebutkan Lub Sbuy (dibaca: Lub Sbuy). Si calo kemudian berkata tidak pernah mendengar nama itu, dan kemudian dia bertanya kepada beberapa supir lainnya, mereka juga tidak tahu. Lalu saya mengeluarkan kartu nama hostel kami. Kemudian mereka langsung tertawa, karena ternyata kami salah mengucapkan nama hostel kami. Lub Sbuy di bahasa Thailand dibaca “Lab Sbay”. Pantas saja dari tadi mereka tidak tau.-____-