Friday, May 2, 2014

Naik ke gunung Sindoro dari Jakarta

Naik gunung lagi….
Huaaaaa.... dalam 1 bulan terakhir udah naik ke 2 gunung berbeda, bukan berarti saya udah ketagihan naik gunung, tapi memang lagi ga ada kerjaan aja kayanya Hahahaaa...
Saking pengen kaburnya dari Jakarta, tiap ada ajakan jalan keluar Jakarta pasti saya terima.

Kali ini Gunung Sindoro tujuannya. Gunung dengan tinggi 3153 MDPL yang berada di dekat Wonosobo dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Biasanya para pendaki melakukan hiking ke 3 S yaitu gunung Sindoro, gunung Sumbing dan gunung Slamet, karena jaraknya yang tidak terlalu berjauhan.

Rombongan kami berangkat dari kampung rambutan jam 8 malam, menggunakan bus Sinar Jaya. Awalnya semua berjalan lancar seperti biasa, saya pun sempat tertidur karena perjalanan malam, sampai saya terbangun kaget oleh suara orang marah-marah dan gedoran di depan bus kami. Semua penumpang satu persatu mulai bangun. Saya sempat mendengar suara kaca pecah dari arah depan bus. Saat itu kami sedang berada di daerah Ciasem, ternyata ada preman yang marah-marah karena tidak diberi uang 2ribu rupiah saja, oleh salah satu penumpang yang dikira preman adalah  kenek bus kami. Si preman sampai masuk ke dalam bus kami mencari orang itu, tapi saat dia tau orang tsb hanya penumpang, akhirnya dia memanggil supir kami keluar, sialnya si supir kena tonjok 2 kali oleh preman yang kesal itu. Tapi akhirnya mereka mengijinkan bus kami pergi.

Untungnya setelah kejadian di Ciasem itu, tidak ada kejadian aneh-aneh lainnya. Hanya saja karena macet parah di jalur pantura, bus yang awalnya kami prediksi akan sampai jam 6 pagi, molor hingga jam 11.30 siang kami baru sampai terminal Wonosobo. Setelah bersih-bersih, salat dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan jam 1 siang ke basecamp di Kledung. Dari basecamp kami naik truck kol buntung hingga batas ladang penduduk. Dari sana kami jalan hingga ke pos 1, jalanan awalnya masih terasa normal. Dari pos 1 ke pos 2, trek yang di lewati semakin berasa berat karena jalanan mulai berbatu, selain itu kami mendaki pada saat hujan.  Hari itu tujuan kami adalah berkemah di pos 3.
Tapi sebagai pemula dalam dunia pendakian, menurut saya trek ke Sindoro ini cukup berat. Selain banyaknya batu-batu besar dan jalanan yang terjal, memerlukan extra hati-hati saat pendakiannya. Saya sampai ke pos 3 setelah maghrib. Dan yang membuat takjub adalah dari pos 3 saya masih bisa mendapat sinyal handphone. Jarang-jarang kan di gunung bisa dapat sinyal HP heheheee... Selama pendakian, saat sedang beristirahat, saya dan teman-teman sering mematikan head lamp kami hanya untuk menikmati city light di kejauhan di bawah kaki gunung yang di apit antara gunung sindoro dan gunung sumbing.
Gunung sumbing berhadapan langsung dengan gunung Sindoro
Sesampainya di pos 3, kami langsung buka tenda, makan malam dan tidur. Keesokan paginya, jam 3.30 pagi kami udah mulai pendakian lagi ke puncak. Sebelum ke puncak kami akan melewati 1 pos lagi yaitu pos 4. Jika sebelumnya saya mengira bahwa perjalanan ke pos 3 udah berat, ternyata saya salah, perjalanan ke pos 4 jauh lebih berat. Sepertinya tingkat kesulitan dari tiap pos di Gunung sindoro ini semakin meningkat.
pemandangan sebelum matahari terbit
Banyaknya batu-batu besar, membuat saya berasa sedang rock climbing, trek nya benar-benar menguras energy dan konsentrasi. Karena jika tidak bisa celaka dengan banyaknya batu-batu yang licin. Pagi itu sayangnya kabut cukup tebal, matahari belum terlihat juga. Tapi pemandangan menuju ke puncak juga tidak membuat kecewa. Akhirnya kami sampai menuju puncak setelah 3 jam pendakian dengan banyak diselingi berhenti untuk menunggu teman-teman yang lain. 
Benar-benar berada di atas awan
Di puncak gunung, terdapat sebuah kawah yang masih aktif. Sebenarnya dilarang untuk turun ke kawah itu, tapi tetap saja ada yang nekad turun, padahal menurut orang-orang di basecamp, awal tahun ada 2 orang meninggal keracunan di kawah itu.
Kawah Sindoro yang masih sering mengeluarkan gas beracun
Perjalanan naik ke puncak memang berat, tapi perjalanan turunnya juga tidak kalah berat. Selain oksigen yang menipis, membuat badan cepat capek, batu-batu yang terjal juga memperlambat proses turun, karena harus extra hati-hati. Pada saat turun ini juga kabut udah mulai tebal, jadi kami berusaha tidak terlalu berpencar dengan teman yang lain karena jarak pandang yang tertutup kabut.

Info tambahan, gunung sindoro ini tidak memiliki sumber air di atasnya, jadi harus irit-irit air minum. Untungnya waktu pendakian ke puncak, masih banyak daun-daun yang berembun, jadi bisa diminum airnya. Lumayan lah untuk penghilang haus.

Kami beres-beres tenda dan jalan turun ke bawah jam 3 sore. Lagi-lagi hujan turun deras saat kami turun. Untungnya kami semua bisa berhasil sampai kebawah dengan selamat. Saya dan teman-teman sampai di basecamp jam 6 sore. Dan ternyata bus terakhir ke Jakarta adalah jam 5 sore, yang artinya kami tidak bisa pulang ke Jakarta malam itu menggunakan bus T_T hiks.. hikss...


Akhirnya dengan bantuan teman-teman di basecamp kami dibantu mencari elf untuk di carter mengantar kami ke Jakarta. Akhirnya setelah lama menunggu, Elf kami tiba di basecamp dan kami pun berangkat pulang ke Jakarta jam 11 malam dari basecamp, dan karena jalur selatan macet parah, kami dialihkan menuju jalur pantura yang juga ternyata macet parah. Kami semua tiba di kampung rambutan jam 12 siang.

Over all, perjalanan kali ini benar-benar memperkaya pengalaman saya. Selain main ke pantai atau ke kota-kota lain di dalam atau luar negeri, kali ini mencoba pengalaman naik gunung dengan segala macam ceritanya.

Mencoba Merasakan makan Di sangkar Burung, Dusun Bambu

Pulang ke Bandung, saya tidak pernah merasa bosan, karena selalu ada saja hal-hal baru yang bisa di explore. Salah satunya beberapa minggu yang lalu saya diajak ke Dusun Bambu Leisure Park yang berlokasi di jalan Kolonel Masturi KM 11. Awalnya saya pikir, tempat ini hanya akan berupa tempat makan keluarga seperti tempat makan lainnya, tapi bukan Bandung namanya kalau tidak kreatif. Dusun bambu dibuat bernuansa tradisional Sunda. Begitu kita turun dari parkiran, mata kita akan langsung bisa melihat hamparan sawah, dan bebek-bebek,  lengkap dengan saung di atas sawah.

Untuk sampai ke restonya, disediakan kendaraan sejenis tuktuk di Thailand, namun yang ini dihiasi dengan kertas warna warni. Restonya sendiri terbagi 2 macam, ada yang berbentuk buffet dan ada yang biasa saja (non-buffet).
Kendaraan dari tempat parkir ke Resto
Dari 2 macam resto ini pemandangan yang di sajikan juga berbeda, jika di dalam resto buffet yang bernama Cafe Burangrang kita bisa melihat pemandangan rumah-rumah di pinggir danau yang di beri nama saung purbasari, juga ada live music yang mengapung dari atas danau. Sedangkan untuk resto non-buffet pemandangan yang bisa kita lihat adalah hutan-hutan dan pegunungan.
tempat makan berbentuk sarang burung

Hal unik lainnya adalah jika kita ingin memesan makanan non-buffet, kita harus menukarkan uang kita dengan uang-uangan yang telah disediakan disana, mirip dengan uang monopoli. Dan ada juga area dimana tempat makannya berbentuk sarang burung, sehingga kita bisa merasakan menikmati makanan dari dalam sangkar burung dengan pemandangan pegunungan. Di web resminya, tempat makan berbentuk sarang burung ini disebut lutung kasarung, mengambil nama dari salah satu cerita rakyat Sunda.
Saung Purbasari

Cafe Burangrang
Untuk anak-anak yang ingin bermain juga terdapat wahana bermain untuk panah, dan becak-becak mini.

Kisaran harga, masih wajar dan tidak terlalu mahal. Tempat ini buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam.

Tuesday, April 1, 2014

Hiking dari Jakarta ke Gunung Papandayan

Hiking….. udah lama banget saya ga pernah naik gunung. Kali ini ajakan datang dari teman kantor saya untuk hiking ke gunung Papandayan.  Jujur saya belum pernah hiking kesana, yang saya tau cuma lokasinya yang berada di Garut, dan merupakan gunung yang masih aktif.

Meeting point di pasar Rebo, karena kalau dari kampung rambutan bus akan ngetem lama banget. Jadi biar langsung jalan kami naik bus dari dekat halte busway pasar Rebo. Tapi kami lupa bahwa saat itu sedang long weekend, jadi bus sudah penuh semua begitu sampai di pasar Rebo. Kami juga banyak bertemu rombongan lain yang akan mendaki gunung. Kami naik bus Jakarta-Garut, harganya Rp.42.000 per orang, tapi karena kami tidak dapat duduk kami nego dan diberi harga Rp 40.000 oleh kondektur bus. Perjalanan 4 jam menuju garut, saya duduk di lantai bus, lumayan masih bisa duduk walau di lantai, daripada harus berdiri selama 4 jam.
Kami tiba di terminal Guntur jam 3.30 pagi. Di sebrangnya terdapat banyak warung-warung dan WC umum, juga di sebelahnya terdapat masjid. Untuk ke WC bayar Rp.2000. Setelah cuci muka dan bersih-bersih badan, kami sarapan di warung sekitar situ, menjual bubur ayam dan nasi kuning. Harga seporsi untuk kedua makanan tersebut hanya Rp. 5.000 saja, sudah gratis teh tawar hangat. Tidak lama terdengar suara panggilan dari masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Cisurupan dengan menaiki angkot yang setelah kami nego, tiap orang dikenai tarif Rp. 15.000,- Di Cisurupan ada indomart dan ATM BNI kalau ga salah, jadi bisa buat beli-beli sesuatu dulu. Kami masih harus lanjut menggunakan mobil  pick up (kol buntung) untuk sampai ke camp david. Harga per orang setelah nego bayar Rp.20.000/orang. Satu mobil pick up biasanya diisi 12 orang, karena kelompok kami bertujuh, jadi kami gabung dengan rombongan lainnya.
Perjalanan menuju camp david mengingatkan saya dengan jalan menuju ke gunung merapi, karena jalan berbatu dan lubang disana sini. Tapi karena rame-rame jadi seru-seru aja :P

Sesampainya di camp david, perwakilan kelompok harus melapor. Biaya registrasi per orang Rp. 4.000, ditambah sumbangan sukarela. Di camp david ini titik terakhir yang bisa ditempuh dengan mobil. Ada banyak warung-warung juga kalau mau mengisi energy sebelum memulai pendakian.
Kami mulai naik jam setengah 9, di awal-awal pendakian track yang dilalui berbatu. Semakin keatas bau sulfur/belerang makin terasa. Saya menggunakan masker untuk mengurangi bau belerang yang masuk ke hidung. Setelah 1 jam jalan akhirnya kami melewati sungai…yaaayyy bisa main air…
Setelah sampai diatas ada 1 pos lagi untuk melakukan laporan terlebih dulu. Dari pos ini tidak terlalu jauh, kami sampai di pondok saladah, lokasi kami akan camping. Gunung Papandayan termasuk gunung yang mempunyai sumber air, jadi tidak perlu pusing mencari air.
Yang membuat saya kagum itu saat pendakian saya bertemu dengan beberapa anak kecil yang diajak ayah ibunya untuk hiking. Padahal umurnya sekitar 6 tahun, tapi sudah kuat untuk mendaki gunung, salut.
Sore harinya hujan deras, jadi kami susah keluar, hanya masak untuk makan sore. Besok paginya kami mengejar matahari terbit di hutan mati. Hutan mati adalah lahan yang berisikan pohon-pohon mati yang diakibatkan letusan gunung papandayan tahun 2002.

Kami tidak pergi ke taman edelweiss karena salah perhitungan jam, dan memilih untuk turun cepat-cepat agar tiba di Jakarta tidak terlalu malam.
Pada saat turun bukan berarti jalan menjadi mudah juga, karena jalanan terasa lebih licin. Kita harus lapor ulang lagi di pos sebelumnya dan saat jalan turun kami mendatangi air terjunnya juga. Jalan menuju ke air terjunnya cukup terjal, harus benar-benar hati-hati kalau mau naik ke puncaknya.

Perjalanan turun berjalan lancar, kami tiba di camp david dan beristirahat sebentar disana, sebelum melanjutkan turun dengan pick up dan angkot. Kali ini kami dapat harga angkot lebih murah dari saat datang, mungkin negonya lebih jago hehhehehe…

Jadi total pengeluran disana:
·         Bus Jakarta-Garut                          : Rp. 42.000
·         Angkot Terminal – Cisurupan         : Rp. 15.000
·         Pick up Cisurupan – Camp David   : Rp. 20.000
·         Registrasi +sumbangan                    : Rp. 4.000 + sukarela
·         Pick up Camp david – Cisurupan    : Rp. 20.000
·         Angkot Cisurupan – Terminal          : Rp. 12.000
·         Bus Garut-Jakarta                           : Rp. 42.000

Tambahan lainnya:
Bubur ayam        : Rp. 5.000
Toilet                  : Rp. 2.000
Teh manis           : Rp. 1.000
Gorengan           : Rp. 3.000
Makan besar     : Rp. 26.000


Monday, November 11, 2013

Jalan-jalan dari Singapore ke Malaysia (3 hari - 2 malam)

Sabtu, 5 October 2013

Jalan-jalan kali ini saya pergi bersama 2 orang teman saya. Jam 6 pagi kami sudah check in untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Singapore. Sesampainya di Singapore saya menemani 2 teman saya yang mau membeli tiket harian MRT. Dan ternyata waktu sampai di tempat pembelian tiket antriannya panjang banget, kami menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk mendapat tiket MRT. Kebanyakan yang mengantri adalah turis – turis dari Indonesia juga. Setelah tiket didapat, kami langsung menuju Raffles Place St. dari sana kita tinggal mengambil Exit H untuk berjalan kaki ke Merlion dan Esplenade. Setelah puas foto-foto di sana, kami lanjut menuju Concorde Hotel. Karena kami ingin ikut menaiki bus gratis yang menuju ke arah Sentosa Resort untuk masuk Universal Studio Singapore (USS). Begitu keluar dari stasiun MRT kami tidak langsung menemukan Concorde Hotel ini, kami sempat bertanya ke beberapa orang sebelum akhirnya menemukan hotelnya.
Patung Merlion
Bus gratis ini kedatangannya setiap 30 menit sekali. Sayangnya saat kami sampai di persimpangan Concorde Hotel, bus nya baru saja berangkat yang artinya kami harus menunggu 30 menit lagi. Karena saya sudah keburu ada janji dengan teman lainnya di USS, jadi akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi bertiga dari sana menuju USS. Untungnya harganya tidak terlalu mahal hanya SGD 8.5 dan itu pun kami bagi bertiga jadi masing-masing membayar sekitar SGD 2.8.
Sesampainya di parkiran basement Sentosa Resort, kami segera mencari loket penukaran tiket yang sebelumnya sudah kami pesan dari Indonesia supaya dapat harga yang lebih murah. Untuk menuju ke pintu masuk USS kita tinggal menaiki escalator saja ke atas. Kalau ke USS kayanya belum lengkap kalau belum foto di depan Globe besar bertulisan Universal.
Replika Transformer
Replika penjaga Pyramid
 Selama berkeliling di dalam USS dan mencoba permainan, yang menjadi favorite saya adalah Transformer dimana kita seperti sedang menaiki bumble bee, dan mobil kita di angkat, lalu di banting, pokoknya belum ada taman bermain dengan efek seperti ini di Indonesia. Selain itu juga ada tempat yang menunjukan bagaimana special efek di Studio Universal. Waktu itu kami diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana jika film tentang badai dengan setting New York dilakukan di dalam studio Universal. Ternyata efek api yang ada adalah api sungguhan selain itu juga pencahaayan, angin dan semua barang yang berjatuhan membuat keadaan yang kami rasakan benar-benar seperti di tengah badai sungguhan. Di dalam paket tiket USS tedapat juga kupon makan siang sebesar SGD 10, jadi kami tidak keluar uang makan lagi.

Kami keluar dari USS pada jam 6.30 sore dan untuk kemudian melanjutkan ke Bugis Street. Karena sudah mulai capek, kami sepakat untuk menuju bugis street dengan taxi, tidak mecari bus gratis lagi. Sebelumnya saya mengecek terlebih dulu perkiraan biaya untuk taxi dari USS ke Bugis street dengan menggunakan web gothere.sg

Surprisingly, pengemudi taxi yang saya gunakan menuju Bugis Street adalah orang Indonesia. Dulunya Bapak ini adalah seorang dosen di perguruan tinggi swasta di Jogja. Namun karena pada jaman orde baru Bapak ini termasuk yang vocal dalam menentang orde baru  dan setelah kerusuhan tahun 1998, akhirnya memutuskan untuk pindah ke Singapore. Karena Singapore tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia, maka Bapak ini merasa aman untuk tinggal di Singapore.

Akhirnya saya dan kedua teman saya sampai di Bugis Street. Disini adalah salah satu pusat belanja oleh-oleh murah di Singapore selain China Town. Selesai dari Bugis Junction kami menuju Masjid Sultan di kasawan Arab Street. Tepat di sebrangnya terdapat tempat makan yang menghidangkan masakan khas arab. Saya memesan Nasi Beriyani yang ternyata porsinya sangat besar, bisa dimakan untuk berdua. Kami juga sempat masuk dan salat di Masjid Sultan.

Dari Masjid Agung, kami berjalan kaki menuju pool bus yang akan kami tumpangi ke Malaysia. Pool busnya berada di Keypoint, dan bus akan berangkat jam 12 malam.

Minggu, 6 October 2013

Baru aja saya mau tidur, kami dibangunkan karena kami harus turun di imigrasi Singapore, kami hanya butuh turun membawa passport saja, dan beberapa jam kemudian kami sudah harus turun bus lagi untuk melapor di imigrasi Malaysia, kali ini semua barang kami harus dibawa karena akan di scna semua bawaan kita. Jam 4 pagi kami diturunkan di sebuah tempat jalan tun perak untuk selanjutnya menunggu bus menuju KLIA dan LCCT. Awalnya saya pikir bus yang saya tumpangi ini akan langsung turun di LCCT ternyata tidak. Lumayan lama sih saya tunggu bus disana, jam 5 baru bus terusan kami datang. Pemberhentian pertama bus berhenti di KLIA, dan ternyata untuk sampai ke LCCT dari KLIA lumayan lama juga karena jalan yang memutar. Akhirnya kami sampai di LCCT jam 6 pagi.

Di LCCT kita naik aerobus ke KL sentral, tiket bisa langsung dibeli di depan bus, harganya RM 8. Aerobus ini ada setiap 15 menit. Rencana awal kami adalah beli tiket PP ke Genting highlands untuk jam 12 siang, lalu setelah dapat tiket, kami akan langsung ke batu cave untuk kemudian kembali lagi ke KL sentral jam setengah 12 untuk naik bus ke genting highlands.
Harga tiket ke Genting & Jadwal keberangkatan
Tapi ternyata begitu sampai di loket tiket, petugasnya memberi tau bahwa jika kami ingin memesan tiket untuk jam 12 maka kami harus datang jam 11 atau setengah 12, karena tiket yang saat itu dijual adalah tiket bus yang siap berangkat. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket sepulangnya dari Batu Cave.
Sebelumnya kami pergi ke penitipan barang untuk backpack kami, karena kami baru akan check in ke hostel sepulangnya dari Genting highlands. Kami menggunakan 1 locker untuk menyimpan 3 backpack kami, ternyata muat, harganya RM 10 untuk sampai jam 12 malam.

Perjalanan ke Batu Caves menggunakan KMT cuma RM1, perjalanan 30 menit untuk sampai kesana. Yang paling mencolok begitu sampai di Batu Caves adalah patung besar Hanoman. Tidak jauh dari sana ada patung Murugan yang hampir setinggi bukit Batu Cave. Didepannya terdapat sebuah lapangan yang banyak sekali merpati seperti yang sering ada di lapangan eropa.
Patung Dewa Murugan, hampir setengah tinggi bukit
Untuk sampai ke Goa dia atas bukit, kita harus menaiki ratusan anak tangga. Sepanjang anak tangga itu kita bisa berpapasan dengan monyet-monyet yang mencari makan. Sebetulnya setelah sampai di Goa yang pertama kita masih bisa naik lagi ke atas untuk melihat goa yang lebih tinggi. Disana bisa dilihat pemandangan ceruk tebing yang tinggi sekali, dengan dasarnya adalah kuil-kuil hindu.
Masih ada tanjakan ke atas lagi dari dalam Goa
Setelah puas melihat-lihat batu caves, kami kembali ke KL sentral. Kami sampai di KL sentral jam 11.40, dan ternyata sudah tidak ada lagi tiket PP untuk ke GENTING HINGLANDS. Tiket PP hanya ada sampai untuk jam keberangkatan jam 12. Dan kami mendapat jam keberangkatan 12.30, yang ada hanya tiket one way + tiket sky train untuk PP harganya RM 10,3

Miniatur Menara Eiffel di Genting
 Genting Highland ini mirip seperti Sentosa Island di Singapore, karena keduanya dimiliki oleh pengembang yang sama. Keduanya sama-sama memiliki Casino, hotel, dan amusement park. Bedanya Genting highlands ini berada di lokasi yang tinggi sekali. Untuk menuju kesana kita harus naik sky train, saking tingginya begitu kita akan sampai di Genting Highlands, kereta gantung kami sempat tertutup kabut dan bergoyang-goyang karena anginnya cukup kencang semakin tinggi kami naik.

Sebetulnya Genting highlands ini terdiri dari outdoor park dan indoor park. Tapi menurut info yang saya dapat di dekat tempat penjualan tiket, area outdoor sudah tutup 2 tahun lalu. Kebanyakan area permainan di Indoor lebih cocok untuk anak-anak. Saya Cuma masuk ke bagian snow world, untuk masuk kesini bayar lagi sebesar RM 30, sayangnya tidak diperbolehkan membawa kamera kedalam sini. Kalau mau di foto, harus bayar RM50, tapi tetep sih sempat kita curi-curi foto pakai HP juga hehehee…
Snow World Genting Highlands
Kami makan siang di KFC, karena MCD disini tidak menyediakan nasi, maklum orang Indonesia kalau belum nemu nasi rasanya belum makan. Tapi ternyata di KFC juga nasi yang disediakan bukan nasi putih biasa, tapi nasi lemak. Jadi agak aneh juga sih campur-campur rasanya di lidah.

Untuk kembali ke KL sentral kami harus membeli tiket express bus sehaga RM4.3 menuju ke KL sentral. Kami pesan dari jam 5 sore, tapi ternyata dapat tiket untuk jam 6 karena jam 5.30 sore sudah penuh. Begitu sampai di KL sentral kami langsung mengambil semua barang di locker dan menuju ke Hostel di daerah Bukit Bintang. Kami check in jam 8 malam, dan karena kesalahan pihak hostel, ruang dorm yang kami pesan ternyata sudah di ambil orang dan akhirnya kami malah diberi room Family, tanpa tambahan biaya. Yayyyyy !!!! Dapat upgrade room gratis hehehheee… Hostel yang kami tempati itu namanya Sunshine bedz, recommended banget pokoknya, orang-orang yang jaga semua ramah, dan lokasinya strategis.
Akhirnya sempet foto dulu di depan Menara Petronas
Jam 9 malam kami lanjut lagi jalan ke menara kembar petronas. Seetulnya masih ada 1 lokasi lagi yang mau kami datangi yaitu Petaling street karena disana banyak yang mebjual berbagai macam souvenir dan makanan. Kami naik KMT jam 10.29 dan sampai di Petaling jam 11 kurang. Tapi begitu sampai di stasiun Petaling, kami kaget, karena suananya sepiii banget. Tidak terlihat ada pasar atau keramaian, mana KMT terakhir jam 11 malam, jadi sudah pasti kami tidak bisa kembali ke KL sentral menggunakan KMT. Stasiunnya juga seperti sudah tutup. Akhirnya kami bertanya ke seorang perempuan yang turun bersama kami, kami bilang kita mau ke petaling street yang ada pasar malamnya dan jual berbagai macam souvenir.

 Setelah perempuan ini menjelaskan, ternyata kami salah naik jurusan, petaling yang kami cari itu lokasinya di dekat China Town dan pasar seni, bukan di stasiun Petaling. Cuma namanya memang sama, hadeuuhhh nyasar deh -____- Karena lokasinya yang jauh, dan KMT sudah tidak ada, perempuan ini memeberi kami tumpangan dampai ke shuttle bus terdekat. Jadi kami naik mobilnya bersama suami dan 2 anaknya yang masih kecil. Mobilnya juga cukup kecil, mirip sedan kotak sabun, tapi mereka baik sekali masih mau memberi tumpangan kempada kami bertiga. Malah si suami istri ini memberi nomor telpon mereka, dan bilang kalau sampai jam 12 malam tidak dapat juga bus, kami disuruh telpon mereka dan mereka akan jemput untuk antar ke hostel kami. Baiikkkkkk banget….. FYI, bus di Malaysia itu Cuma da sampai jam 12 malam.

Akhirnya bus datang juga, semua pemberhentian terakhir bus itu adalah di Pasar seni. Dari pasar seni kami naik taxi ke Bukit Bintang, awalnya supir minta RM 15, tapi saya tawar RM10, untung supirnya mau. Selama perjalanan supirnya tanya-tanya kami sudah kemana saja, lalu dia memberi brosur Bird park, dia juga memberikan kartu namanya, dia bilang kalau ke Malaysia lagi nanti telpon saja kalau butuh taxi untuk mengantar keliling-keliling.

Senin, 7 October 2013

Hari terakhir di KL di awali dengan kami bertiga terkunci diluar kamar jam 5 pagi, gara-gara waktu kami semua pergi mandi salah satu teman saya lupa bahwa kunci masih di dalam dan dia mengunci pintunya dari luar. Untung resepsionis di hostel kami 24 jam dan dia membantu membukakan kamar kami dengan kunci cadangan.
Rute GOKL
Jam 6.15 kami sudah berlarian ke shuttle bus GOKL karena ternyata kami salah menunggu di halte bus untuk bus biasa. Untung jaraknya tdak jauh dari hostel kami. Bus GOKL ini adalah bus gratis yang berkeliling Malaysia, datang tiap 15 menit sekali. Kami turun di terminal akhir pasar seni, untuk menuju ke Masjid Jamek. Kami juga sempat melihat Stasiun tertua di Kuala Lumpur. 
Salah satu stasiun Tertua di KL, dibangun tahun 1910
Selama berkeliling itu kami sempat bertanya kepada beberapa orang untuk arah ke Masjid Jamek. Dari  tiap orang yang kami temui mereka pasti selalu mengingatkan untuk berhati-hati pada jambret dan copet. Bahkan ada bapak-bapak yang mengingatan untuk tidak keluar sebelum jam 6 pagi, karena tidak aman.
Masjid Jamek
Tidak jauh dari Masjid Jamek, kami akhirnya menemukan Petaling / China Town yang semalam kita cari sampai nyasar hahahahaa… Tapi karena kita kesana masih pagi, jadi baru ada 2 tempat pinggir jalan saja yang buka, mereka menjual baju-baju yang biasa dibeli untuk oleh-oleh dari Kuala lumpur. Menurut penjualnya, petaling baru buka jam 11 pagi, dan ramainya di malam hari.
Kami tidak berlama-lama di Petaling karena takut terlambat check in pesawat. Dari Pasar Seni kami naik LRT ke KL sentral, dan lanjut menaiki aerobus untuk menuju ke LCCT. Sayang Tiger Air tidak memiliki sistem check in Online, jadi kami harus datang 2 jam sebelum keberangkatan.
Overall, selama 1,5 hari di Kuala lumpur, sudah hampir semua tujuan wisata kita datangi. Dan sudah hampir semua alat transportasi yang ada kami coba, dari KMT, LRT, Bus, GOKL, Taxi, sampai dapat tebengan dari warga lokal pun kami rasakan heheheeee….

Jam 13.20 kami sampai di Jakarta setelah sejam delay di LCCT karena lapangan penerbangan yang sedang sibuk.

========================================================================

Gambaran pengeluaran & itinerary kami selama trip ini:


========================================================================
NB:
Untuk tau daftar bus yang bisa digunakan dari/ke Singapore - malaysia
http://www.singaporemalaysiabus.com/kuala_lumpur.html

ada Bus gratis untuk ke USS
http://www.jalanjalansingapura.com/free-shuttle-bus-universal-studios-singapore-rute-orchard/

Buat cari rute
http://gothere.sg/maps 

buat pesen KLIA ekspress & cek schedule
http://www.kliaekspres.com/buy-ticket/

Link buat Aerobus
http://www.aerobus.my/Home_en.aspx

Link sejenis gothere.sg buat tau MRT atau LRT di Malaysia
http://www.myrapid.com.my/

link KTM Komuter
http://ktmkomuter.com.my/

Thursday, September 19, 2013

Sehari Keliling Jakarta

30 Juni 2012

Weekend di Jakarta kebanyakan orang memilih pergi ke Mall, yang pasti ga ada seru-serunya. Jadi saya dan teman-teman membuat  acara jalan-jalan keliling daerah Petak Sembilan dan Kota tua Jakarta. Meeting point di  shuttle busway Glodok. Untuk ke daerah Petak Sembilan kami hanya tinggal jalan kaki. Daerah petak Sembilan adalah daerah Pecinan di Jakarta.

Vihara Dharma Bhakti

Tujuan pertama kami adalah ke Vihara Dharma Bhakti, dan untuk sampai kesana kami akan melewati dulu daerah pasar tradisional di kanan kiri jalan. Sebelum sampai ke Vihara, kami isi perut dulu di salah satu kios makanan dekat Vihara. Menu yang ditawarkan juga sangat khas menu daerah Pecinan. Saya memesan bubur  seafood dengan Cakue, sedangkan teman yang lain ada yang memesan Bakao, Ice Lohan Ko ng-Yen, es teh liang. Perut kenyang, siap lanjut jalan lagi, akhirnya kami masuk ke Vihara Dharma Bhakti yang di depannya banyak sekali penjual bunga.

Disini juga bisa diramal. 2 orang teman saya mencoba untuk di ramal disini. Caranya mereka diberi 2 keping kayu seperti kacang seukuran genggaman tangan yang memiliki 2 sisi atas dan bawah. Lalu mereka harus menjatuhkan 2 benda itu bersamaan, jika kedua benda itu jatuh dengan posisi yang sama, maka harus diulang lagi untuk menjatuhkan kedua benda itu, sampai salah satu menghadap atas dan yang lain menghadap bawah. Kemudian jika sudah seperti itu mereka  diberi cangkir dengan banyak kayu sebesar sumpit, cangkir itu harus dikocok hingga jatuh satu batang, jika jatuh lebih dari sebatang, maka harus diulang lagi. Setelah satu batang jatuh, di batang itu terdapat angka, yang kemudian dibawa kepada seorang bapak yang bisa mengartikan. Mereka diberi selembar kertas kecil yang berisi ramalan.

Gereja Santa Maria De Fatima

Selesai dari Vihara Dharma Bhakti, kami melanjutkan menuju Gereja Santa Maria De Fatima. Gereja ini cukup unik, karena arsitektur khas Tionghoa masih sangat kental terlihat disana sini. Dari luar jika dilihat sekilas bangunan ini mirip Vihara, hanya saja yang membedakan adalah di salah satu sisi halamannya terdapat patung Bunda Maria, dan dibaian dalamnya terdapat deretan kursi yang biasa digunakan Jemaah.


Vihara Dharma Jaya Taosebio

Tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima, kami mengunjungi Vihara Dharma Jaya Taosebio. Dari bagian depan pintu Vihara terdapat ukiran dewa penjaga pintu di kepercayaan Tinghoa. Begitu masuk aula utama, banyak lampion menggantung di langit-langit vihara. Selain itu banyak lilin – lilin yang dinyalakan di bagian dalamnya. Vihara ini tidak kalah ramai dari vihara sebelumnya.

Setelah selesai berkeliling-keliling, saya penasaran ingin mencoba rujak Shanghai, khas daerah Pecinan.  Setelah tanya orang sana sini di jalanan, akhirnya kami menemukan tempat yang menjual mie shanghai.  Begitu datang, wooww ini toh rujak shanghai. Warna sausnya merah rasanya agak manis asam, ditabur kacang di atasnya. Isi dalamnya ada kangkung dan ubur-ubur yang sudah di rebus. Saya sih kurang suka rasa ubur-uburnya karena agak amis, jadi saya makan kangkungnya saja. Tapi setidaknya sudah tidak penasaran lagi bagaimana rasa dari rujak Shanghai.
Rujak Shanghai

Perjalanan berlanjut ke daerah Fatahilah. Disana ada kota tua, dan museum-museum lainnya.

Museum Bank Mandiri

Dari daerah Glodok kami berjalan kaki ke daerah Fatahilah dan mengunjungi Museum Bank Mandiri. Di bagian pintu depannya ada 2 patung pria mengenakan pakaian jaman Belanda. Museum Bank Mandiri ini memang sengaja mempertahankan nuansa tempo dulu. Di atas loket yang dulu digunakan sebagai loket teller, masih terdapat papan yang menggunakan bahasa Belanda. Bahkan petugas museumnya pun menggunakan baju yang berkesan jaman Belanda.
Bagian depan loket, masih menggunakan bahasa Belanda

Di bagian dalam, masih terdapat ruang kantor seperti jaman dulu dipakai, dan di salah satu ruangan terdapat banyak sekali sempoa di pajang dengan miring memenuhi dinding. Ada juga sebuah buku besar yang tingginya sekitar 2 meter.

Museum Bank Indonesia

Setelah itu kami mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang lumayan juga jaraknya. Yang pertama terpikir oleh saya saat memasuki Meseum Bank Indonesia adalah megah, dan modern. Kami dilarang untuk mengambil foto menggunakan Blitz dan dilarang berisik. Museum ini menggambarkan sejarah Bank Indonesia dari masa ke masa. Selain itu juga memperlihatkan bagaimana perjalanan uang di dunia, dan bagaimana para penjelajah dunia menemukan tempat-tempat baru.

Di salah satu bagian terdapat replika dari emas-emas yang disimpan di Bank Indonesia. Wooww seandainya bisa punya emas sebanyak itu pasti enak banget, ga perlu kerja sampai tua.
Di bagian lainnya terdapat foto-foto dari masa ke masa Bank Indonesia, dari saat masih di bawah penjajahan hingga saat ini. Karena itulah di bagian lain terdapat pakaian semasa perjuanagn yang di pajang dan mannequin yang menggambarkan jaman perjuangan dulu.
Replika emas di Museum Bank Indonesia
Saat sudah puas berkeliling dan melihat-lihat Museum Bank Indonesia yang cukup luas, kami pergi ke kota tua. Dan ternyata disana sudah ramai dengan banyak orang yang sedang bermain sepeda ontel, dan foto-foto. Banyak juga yang menjual makanan khas Jakarta seperti kerak telor dan selendang mayang. Karena cuaca hari itu panas sekali, saya memesan es selendang mayang untuk mendinginkan  tenggorokan. Begitu selesai dan sudah puas jajan sana-sini, kami bermaksud untuk mengunjungi  Museum Fatahilah, sayangnya saat itu museum tutup. Tapi untungnya masih ada museum lain yang bisa dikunjungi. Akhirnya kami mengunjungi museum Seni rupa dan Keramik di Jakarta.

Museum Seni Rupa dan Keramik

Dari depan, museum ini tidak tampak seperti museum. Bagian depannya yang memiliki banyak pilar putih lebih cocok sebagai gedung pemerintahan.  Di bagian dalamnya ya seperti museum seni lainnya, penuh dengan lukisan-lukisan, yang sebetulnya saya tidak terlalu mengerti. Tapi kata temen saya yang mengerti seni, gambar disitu mengandung arti yang dalam, berhubung saya tidak mengerti saya cuma ikut-ikutan saja heheee….
 Sebetulnya ada satu Museum lagi di sekitaran kota tua, yaitu museum wayang. Sayang kami tidak sempat masuk.

Jadi jalan-jalan hari itu diakhiri di museum Seni rupa dan Keramik Jakarta. Secara keseluruhan jalan-jalan hari itu sangat memuaskan, karena dalam satu hari dapat banyakmengunjungi berbagai tempat.

Friday, September 6, 2013

2 HARI KELILING BANDUNG


23 agustus 2013

Weekend kali ini, saya ceritanya menjadi host untuk teman kosan saya dari Jakarta, Ari dan Dewi. Hari pertama kami akan pergi berkeliling mengelilingi museum dan beberapa tempat lain di Bandung. Karena kami akan menggunakan angkot, jadi kami pilih tempat-tempat yang memang terjangkau dengan angkot.
Start berangkat di hari Sabtu pagi, dari tempat saya di Cimbuleuit. Tujuan pertama kami adalah Museum pos di dekat gedung sate, untuk menuju kesana kita tinggal naik angkot caheum-ledeng yang menuju ke arah caheum, kemudian berhenti di sebrang Gedung sate.
Gedung Sate Bandung

1. Museum Pos

Museum pos buka setiap hari, dari jam 09.00 - 16.00 tapi museum tutup pada hari libur nasional. Letak museum pos berada di belakang Gedung sate Bandung, posisinya bersebelahan dengan kantor pos. Arsitektur bangunan masih bernuansa eropa, karena merupakan bangunan lama peninggalan Belanda.

Tidak seperti kebanyakan museum, museum ini terlekat di bawah tanah. Untungnya waktu kemarin saya kesana, dibagian ujung langit-langit sudah di rombak dan diberi fentilasi. Jadi keadaan museum lebih terang, tidak suram seperti dulu. Disini banyak terdapat kumpulan perangko dari berbagai negara. Kita juga bisa melihat sejarah pos dan perangko di dunia. Kotak surat dari jaman Belanda, Jepang sampai merdeka juga ada. Ada juga sejarah surat dari kerajaan di indonesia jaman dulu. Intinya museum ini lengkap banget buat yang mau tau soal sejarah pos dan perangko. Beberapa lukisan dan mannequin terpajang di museum ini menggambarkan sejarah dan perjalanan pos.
Kotak pos dari masa ke masa


Perangko pertama di Dunia
Mannequin yang menggambarkan pengantar pos mengirim surat


Perangko awalnya dibuat, karena pada jaman dulu biaya pengiriman surat akan dibayar oleh penerima surat. Dan kadang orang yang menerima surat tidak mau membayar, sehingga dibuatlah perangko untuk menghindari hal seperti ini.
Tidak jauh dari museum pos, kita bisa mengunjungi Museum Geologi yang jaraknya hanya sekkitar 5 menit dengan berjalan kaki.

2. Museum Geologi
Ini salah satu museum favorit saya di Bandung, banyak replika fosil-fosil purba. Dari antropoda, Mamoth, T-rex sampai tengkorak manusia purba juga bisa kita liat di sini. Di sisi lain museum, kita bisa melihat berbagai jenis batuan alam. Dilantai 2, terdapat ruang mengenai sumber energy. Ruangan ini di design menarik dan atraktif, dengan layar LCD touch screen yang menerangkan berbagai siklus energi.
Replika fosil T-Rex

Fosil Mamoth (Gajah Purba)

Tengkorak dari berbagai Ras 
Dulu masuk ke museum ini gratis, sekarang harus membeli tiket masuk. Tapi tenang, harganya super murah kok. Untuk pelajar cuma Rp 2000, untuk umum Rp 3000, dan untuk turis asing harganya Rp 10.000,-. Jam operasional museum ini dari jam 08.00-14.00.

3. Masjid Agung Bandung
Tujuan ketiga hari itu yaitu Masjid Agung. Dari Museum Geologi kita harus berjalan dulu ke arah Pusdai, dari sebrang Pusdai naik angkot jurusan Stasiun - Sadang Serang berwarna hijau. Turun di belokan Piade atau belokan menuju ke arah pasar baru. Dari sana saya dan teman-teman jalan ke arah Braga. Lumayan sih perjalanannya, kalau takut nyasar tanya aja orang-orang sekitar situ, pasti di kasih tau arahnya. Setelah sekitar 15 menit berjalan kaki sambil berhenti sana sini beli jajanan pinggir jalan, akhirnya kami sampai di Masjid Agung. Sebenarnya kalau mau naik angkot juga bisa, berhenti di stasiun, lalu naek angkot Gedebage atau angkot apapun yang lewat Masjid agung heheheee... Pokoknya kalo ragu tanya aja orang sepanjang jalan.
Dulunya menara Masjid Agung ini adalah gedung tertinggi di Bandung. Tapi sekarang saya kurang tau apa masih menjadi gedung tertinggi karena sudah ada apartemen-apartemen tinggi di Bandung. Masjid Agung ini bisa disebut dalam daerah alun-alun Bandung. Tempat yang dulunya merupakan daerah berkumpulnya orang-orang Bandung.
Untuk naik ke menara Masjid agung kita harus membayar Rp 3000 untuk dewasa, Rp 2000 untuk anak-anak, dan Rp 5000 untuk wisatawan. Menara Masjid agung setinggi 19 lantai, pintu hanya akan terbuka begitu kita sampai di lantai 19.

Ruangan di puncak menara, berbentuk lingkaran dan kita bisa melihat pemandangan kota Bandung. Walaupun terlihat padat dengan atap-atap rumah, tapu tetap saja menurut saya pemandangannya keren bangettttt. Apalagi backgorundnya gunung-gunung yang mengelilingi Bandung. Dulu saya pernah melihat Bandung dari puncak di perbatasan Cimbuleuit dan Lembang, dan view Bandung disitu terlihat seperti kota di dasar mangkok, dengan gunung sebagai pinggiran mangkoknya.
Anyway, setelah melihat ke atas menara, saya juga salat di dalam Masjid Agung yang ternyata sangattttt luas.
Kemudian kami meneruskan perjalanan ke Museum Konferensi Asia Afrika dengan berjalan kaki sekitar 10 menit.

4. Museum Asia Afrika
Begitu membuka pintu museum, kita harus melewati mesin metal detector. Bangunan museum ini dipertahankan dari bentuk asalnya saat dulu pertama kali digunakan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika di tahun 1955. Diluar gedung berderet tiang-tiang bendera yang biasa digunakan saat ada acara khusus kenegaraan. Museum ini buka pukul 08.00-15.00.
Di dalam museum ini banyak terdapat foto-foto dan kliping koran berita mengenai konferensi Asia Afrika. Disalah satu sudut ada tombol yang jika kita tekan, maka akan langsung terdengar suara pidato Bung Karno saat memimpin KAA (konferensi Asia Afrika).

Jangan lupa juga untuk masuk ke bagian ruang konferensi. Ini adalah ruang konferensi yang sama seperti saat dulu pertama kali KAA diselenggarakan. Di ujung deoan ruangan terdapat sebuah gong dengan tempelan berbagai bendera negara yang mengikuti KAA.

Saat kunjungan ini saya untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sekarang ada ruang Mesir. Khusus membahas mengenai negara Mesir. Hal ini mungkin dilakukan sebagai penghargaan kepada Mesir yang memiliki kedekatan dengan Indonesia. Mesir juga merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia saat pertama kali Indonesia merdeka.
Begitu masuk ke ruang Mesir ini, lagu khas Mesir sudah terdengar. Di dinding banyak ditempel foto dan sejarah mengenai mesir.
Ornamen di ruang Mesir


5. Kopi Aroma
Setelah puas berkeliling Museum KAA, saya mengantar teman saya ke Kopi Aroma, yang juga tidak terlalu jauh dari jalan Braga. Kopi aroma adalah toko kopi yang sudah berdiri sejak 1930-an. Sayangnya saat saya tiba disana kami terlambat karena sudah tutup. 
Sebenarnya saya sudah beberapa kali datang ke tempat Kopi Aroma ini, pemiliknya dengan senang hati mengantar saya berkeliling pabriknya. Kita bisa melihat tempat penyimpanan kopi, seperti Robusta dan Arabica. Kopi ini akan dimasukan ke dalam karung dan ditimbun selama 8 tahun untuk mengurangi acid yang terkandung dalam kopi. setelah 8 tahun berat karung kopi ini bisa menyusut hingga 1/3nya. 
Kita juga bisa melihat mesin pemanggang dan mesin pemilah kopi yang sudah ada sebelum jaman kemerdekaan. Rasa dari kopi aroma ini juga sudah terkenal karena rasanya.

Tadinya saya, Ari dan Dewi mau melanjutkan ke Selasar Sunaryo, tapi karena sudah lewat jam 6 sore galerI seninya sudah pasti tutup, jadi kami merencanakan besok baru pergi ke galeri seni Selasar Sunaryo.

6. Punclut & Gasibu
Hari Minggunya, saya mengajak Ari dan Dewi ke Punclut, ini merupakan daerah perbukitan di Cimbuleuit atas yang setiap hari minggu berubah menjadi pasar kaget. Dari tempat saya tinggal naik angkot Ciumbuleuit, kanan kiri jalan menuju puncak di penuhi pedagang berbagai macam jualan. Dari penjualan ikan hias, kelinci, hamster, anak ayam warna warni, sampai segala jenis makanan pasar khas Sunda. 
Kami jalan hingga ke puncak bukit di depan gedung RRI, dan memilih makan di salah satu saung yang ada gambar foto Pak Bondan yang terkenal dengan jargon Maknyussss.
Pemandangan dari saung di punclut
Setelah kenyang sarapan di atas bukit sambil melihat pemandangan, kami lanjut ke Gasibu untuk belanja barang-barang murah. Gasibu ini lokasinya berada di sebrang Gedung sate, dan hanya ada setiap hari Minggu saja. Harga barang di Gasibu ini bisa beda sampai Rp 30.000,- kalau di bandingkan dengan beli di Jakarta. 

7. Selasar Sunaryo
Selasar Sunaryo berada di daerah Dago atas, kami menuju kesana dari Gasibu menggunakan angkot Riung Bandung dan berhenti di terminal Dago. Disana sudah banyak tukang ojeg mejeng siap untuk mengantar dan harga yang ditawarkan untuk diantar sampai Selasar Sunaryo Rp 10.000,- 
Sesampainya di Selasar Sunaryo kami diingatkan untuk tidak mengambil foto atau memegang barang disana. Biasanya saya sering ngantuk kalau pergi ke galeri seni, tapi Selasar Sunaryo ini pengecualian. Semua karya-karya yang di pajang unik. Seperti ada satu ruangan yang isinya adalah daun yang saling disambungkan sengan steples dan di gantung dari langit-langit seperti terpal di dalam ruangan. Lukisannya juga tidak kalah unik, media yang digunakan tidak hanya kanvas dan acliric, tapi juga bambu dan lain-lain.
Disini juga tersedia Kedai Kopi bagi pengunjung yang ingin ngopi setelah melihat karya seni disana.

Sebenarnya ada galeri lainnya yang saya suka di Bandung, yaitu NuArt. Galeri ini adalah milik Nyoman Nuarta, seniman yang membuat Patung Wisnu & Garuda di GWK Bali. Semua karya seni di galeri ini buat saya tercengang. Kebanyakan media yang digunakan adalah logam. Engga akan nyesel kalau datang ke galeri yang lokasinya di Sutra Duta Bandung ini.

Sebetulnya masih banyak lagi tempat wisata yang bisa dikunjungi di Bandung, seperti Tangkuban perahu, kawah putih ciwidey, Goa Jepang di dago pojok, wisata belanja di FO, dan wisata kuliner tentunya.