Tuesday, March 19, 2013

Candi Batujaya, Karawang


Jalan-jalan ke Karawang? Awalnya saya pikir ada apa di Karawang? Memangnya ada tempat yang bisa dikunjungi disana? Setau saya disana hanya banyak pabrik-pabrik dan daerah yang gersang serta panas.
Ternyata belum banyak yang tau bahwa di Karawang, terdapat komplek Candi, tepatnya di daerah Batu Jaya. Mungkin kebanyakan orang belum tau hal ini karena kurangnya publikasi mengenai Candi Batujaya di Karawang
How to get there?
Saya bersama 4 orang teman saya lainnya, pergi ke Karawang dari Bandung dengan mobil pribadi, karena setau saya tidak ada angkutan umum untuk menuju Candi disana. Jalur yang dilewati adalah kami masuk melalui tol Pasteur dan keluar di gerbang tol Karawang Barat. Ambil ke arah Rengasdengklok, selama perjalanan menuju ke Candi, kita tinggal mengikuti penunjuk jalan menuju Candi Batujaya. Akhirnya setelah perjalanan selama 3 jam, kami tiba di kecamatan Batujaya.
Untuk sampai ke Candi itu kita harus berjalan melewati persawahan, tapi sudah teredia jalan setapak yang cukup rapih sehingga tidak perlu kotor-kotoran di tanah sawah. Sebelum masuk kesana, kita diminta melapor terlebih dulu di pos terdekat yang di jaga oleh warga sekitar, juga jika ingin dibantu guide, warga disana akan dengan senang hati membantu.


Jalan setapak menuju Candi Jiwa dan Bladongan

Candi pertama yang dilihat adalah Candi Jiwa. Candi ini terbentuk dari susunan batu bata. Masih terlihat bentuk tangga dibagian depannya. Namun sebagian besar bagian puncaknya sudah rusak. Kalau dipikir-pikir bagaimana bisa ada candi ditengah persawahan yang datarannya lebih rendah dari candi itu. Mungkin pada awalnya warga melihatnya sebagai tumpukan tanah, saat akan di garap untuk persawahan, maka diketemukanlah Candi ini. Di samping Candi Jiwa ini, kita juga bisa melihat tumpukan batu-batu bata  yang merupakan sisa rereuntuhan Candi.

Candi Jiwa

Candi Jiwa dilihat dari samping, keseluruh bangunanya simetris


Tumpukan reruntuhan dari Candi
Tidak jauh dari Candi jiwa, kita bisa melihat Candi Bladongan, hanya perlu berjalan kaki sekitar 5 menit. Sebetulnya bentuknya tidak terlalu berbeda dengan Candi Jiwa, hanya sekilas tampak lebih lebar. 


Candi Bladongan
Hamparan sawah yang luas di sekitar Candi juga bagus banget. Seandainya Candi ini dipugar mungkin akan lebih banyak menarik minat wisatawan untuk mendatanginya. Dan membantu untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar situs budaya ini juga.

Monday, March 4, 2013

Mau Nonton Bola, Nyawa Taruhannya


Waktu itu saya dapat bbm dari teman saya Iren yang mengajak untuk menonton final Sea Games cabang sepakbola U-23 langsung di Gelora Bung Karno bersama teman saya lainnya, Mamat. Saya langsung setuju, kebetulan salah satu teman kami semasa kuliah, kenal orang yang berjualan tiketnya sehingga kami tidak perlu antri di GBK. Tiket VIP sudah ditangan, tapi masa tidak pake perlengkapan timnas, akhirnya saya dan Iren dengan niatnya beli terlebih dulu baju timnas Indonesia seminggu sebelum pertandingan.
Karena hari pertandingan final itu hari Senin, sehingga saya baru bisa pergi kesana begitu beres jam kerja. Mamat dan Iren sudah stay tune di FX karena kami janjian disana. Jam 5 teng, saya langsung ngacir keluar kantor dan mencari ojeg yang mau mengantarkan ke GBK. Sebenarnya pakai bus transJakarta juga bisa, tapi mengingat ini jam pulang kantor pasti macet sekali. Mendekati daerah GBK, jalanan seakan berubah menjadi merah, karena banyaknya orang-orang pendukung Indonesia yang berjalan kaki maupun menggunakan motor memenuhi jalan menuju GBK. Saya berharap tidak terlambat, karena pertandingan dimulai jam 7 malam. Akhirnya sampai juga saya di FX, dan langsung mengganti baju kantoran saya dengan baju timnas.
Sampai di gate pintu masuk ternyata perlu perjuangan. Saat itu baru jam setengah 7, tapi pintu ditutup oleh aparat polisi. Saya engga ngerti kenapa? Mungkin mereka takut bahwa kami adalah penonton illegal yang tidak memiliki tiket. Makin lama suasana diluar gate semakin memanas, orang-orang mulai mendorong-dorong kedepan, seperti biasa kalau sudah terjepit diantara banyak orang seperti ini, saya yang tidak tinggi jadi terhimpit dan sulit bernafas karena tidak adanya oksigen. Orang-orang mulai berteriak-teriak, sambil menunjukan tiket mereka ke arah polisi yang berjaga dan meminta untuk membuka pintu masuk ke stadion. Tapi polisi tetap tidak berkutik, karena jumlah masa yang banyak sedangkan polisi yang berjaga hanya 2 orang. Seorang polisi lainnya malah enak-enakan merokok di dalam mobil jaga seakan tidak mau tau.
Setelah beberapa waktu yang menyiksa karena saya sulit bernafas, akhirnya gerbang pun mulai dibuka, orang-orang mulai maju sedikit demi sedikit. Begitu giliran saya maju dan memperlihatkan tiket, ya ampun ternyata tidak seluruh gerbang dibuka. Di depan saya masih ada pagar penghalang setinggi paha, sehingga untuk masuk saya harus memanjat pagar itu dulu. Akhirnya kami bisa masuk ke stadion. Awalnya saya berpikir karena kami sudah membeli tiket VIP maka tempat duduk sudah terjamin, tapi ternyata pikiran kami salah, karena seluruh kursi sudah penuh terisi. Hingga kami bertiga duduk di tangga.
Lautan warna merah di Stadion Gelora Bung Karno
Suasana GBK malam itu sangat meriah, karena tim yang akan Indonesia lawan di malam final itu adlaah Malaysia. Apapun yang berhubungan dengan Malaysia, memang sudah bukan rahasia lagi, pasti aura persaingannya jauh lebih sengit dibanding Indonesia dengan negara lain. Diantara lautan berwarna merah pada kursi penonton di stasion GBK, ada secuil warna kuning yang berasal dari pendukung timnas Malaysia. Jumlahnya mungkin kurang dari 50 orang, dan disekitarnya sudah dikelilingin penjagaan ketat polisi untuk menghindari adanya serangan terhadap pendukung Malaysia itu.
Kedua Timnas sedang menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai
Di awal, Indonesia tampil menyerang
Begitu peluit dimulai, telinga saya sempat pekak karena suara gemuruh supporter Indonesia yang menyemangati. Semua dukungan itu terjawab pada menit ke-5 Indonesia unggul 1-0 oleh gol dari tendangan Gunawan Dwi Cahyo. Namun sayangnya pada menit ke-33 Malaysia berhasil menyamakan kedudukan. Hingga menit ke-90, kedudukan masih imbang. Aura semangat sedikit meredup di GBK, hingga pada menit ke-93 Ferdinand Sinaga berhasil mencetak gol ke gawang Malaysia. GBK seakan mau meledak oleh suara kegembiraan supporter Indonesia. Namun sayang, gol itu di anulir wasit karena Okto dianggap berada dalam posisi offside.
Beberapa kesempatan Corner kick, tidak membuahkan hasil
Pertadingan akhirnya dilanjutkan dengan adu penalti. Disinilah Indonesia takluk dari timnas Malaysia dalam adu penalti. Tapi memang saya akui, saat itu kondisi timnas Malaysia diuntungkan dengan memainkan kiper seniornya yang wajahnya menurut saya mirip Vj Daniel hehehheee….
Walaupun berakhir dengan kekalahan dan agak lesu juga sebenarnya, tapi kami masih tetap salut dengan timnas Indonesia yang bermain cukup baik, namun kurang hoki sedikit lagi. Setelah keluar dari stadion saya membuka BB saya, dan mendapati mention dari teman saya di twitter yang menanyakan keadaan saya, Iren dan Mamat di GBK. Ternyata menurut info teman saya ini, ada 2 orang meninggal saat pelaksanaan Sea games barusan. Info ini baru saya dapat, karena selama di dalam stadion kami tidak mendapatkan sinyal Hp.Menurut berita yang selanjutnya saya baca di media, korban meninggal setelah sebelumnya sempat pingsan karena kelelahan dan terinjak-injak saat mau memasuki stadion. Saya turut beduka cita untuk meninggalnya 2 suporter Indonesia malam itu.
Sangat disayangkan, untuk menonton dan menyemangati timnas Indonesia, 2 keluarga harus kehilangan anggota keluarganya. Semoga pihak yang bersangkutan dapat memperbaiki sistem keamanan dan keselamatan di stadion saat diadakan pertandingan. Jangan sampai, hanya untuk mendukung Timnas bertanding saja, kita harus mempertaruhkan nyawa.

Konser Hardcore Paramore di Jakarta 2011


Saya ini salah satu fans berat Paramore, band rock asal Tennesse, Amerika. Saya sudah nge-fans sejak 2006, dan dulu cuma bisa berandai-andai, kapan band ini akan manggung di Indonesia. Pada 2009 saya sempat dengar gossip bahwa Java Musikindo akan mendatangkan Paramore di akhir tahun. Tapi kok tidak ada gembar-gembornya ya? Karena sudah jamannya twitter saya pun menanyakan kepada account Adrie subono, mengenai kebenaran konser Paramore ini. Sayang jawabannya adalah Paramore menolak untuk datang ke Indonesia, kurang jelas juga apa alasannya. Tidak menyerah disitu saja, saya juga sok-sokan nge-tweet ke account twitter sang vokalis Hayley Williams. Meminta dia untuk datang ke Indonesia dengan hastag #IndonesiaWantsParamore. Dulu kayanya termasuk ababil juga saya ini, pokoknya dalah semalam itu bisa banyak banget tweet yang saya kriim soal Indonesia pengin kedatangan Paramore. Sampai teman saya menyemangati melihat kelakuan saya yang rasanya sudah seperti orang OCD (obsessive-compulsive Disorder) heheheeee….
Setelah berbulan-bulan capek juga nih, sudah hopeless, fixed Paramore engga akan datang ke Indonesia. Dan sesuatu yang tidak terduga terjadi di awal tahun 2011. Saya mendapat info dari teman saya bahwa Paramore akan datang ke Indonesia, tapi bukan dibawa oleh Java Musikindo melainkan oleh promotor baru. Berhubung sudah sering dengar gossip seperti ini dan sering engga kejadian, saya awalnya skeptic. Tapi begitu melihat di timeline fanbase Paramore di Indonesia, ternyata benar mereka akan datang ke Indonesia bulan Agustus itu. Wihiiiiiyyyy senangnya bukan kepalang, akhirnya yang ditunggu datang juga. Saya bela-belain ngantri di salah satu distro di Bandung untuk mendapat tiket pre-salenya. Waktu itu saya beli saja dulu tanpa memikirkan nanti pergi ke konser dengan siapa.
Akhir Juli itu saya di wisuda dari kampus. Dan sudah harus pindah ke Jakarta untuk bekerja di tanggal 1 Agustus. Waduhh saya mulai bingung, bulan Agustus tahun 2011 waktu itu sedang bulan puasa pasti haus banget itu saat ngantri masuk ke konsernya dan hal kedua, saya masih baru sekali di kantor yang pastinya belum ada cuti, dan yang ketiga saya belum ada teman untuk pergi kesana. FYI, konsernya itu di tanggal 19 Agustus, hari Jumat.
2 minggu sebelum hari-H akhirnya semua masalah terpecahkan, ternyata saya tidak puasa pada tanggal itu (urusan bulanan wanita) jadi tidak akan berhaus-haus ria, dan saya ijin ke kantor untuk urusan keluarga, yang ternyata di ijinkan. Yang terakhir, ternyata salah satu teman saya juga akan pergi nonton konsernya di sana, dan dia membawa mobil pinjaman kakaknya. Horeeeee masalah selesai.
H-2, tanggal 17 Agustus, Paramore sudah terlebih dahulu melakukan konser di Bali, posting fotonya sudah di posting memalui twitter fansbase Paramore di Indonesia. Akkkhhhhh makin ngiler dan ga sabar, apalagi setelah saya tau bahwa akan ada penonton yang di ajak naik ke panggung dan bisa nyanyi serta foto bareng dengan Paramore.
Saya janjian dengan teman saya yang  saya sebut Demon di Ancol. Karena dia datang dari Bekasi bersama temannya. Niat menggunakan busway saya sampai ke Ancol. Sudah terlihat beberapa orang duduk-duduk menunggu gate dibuka. Gatenya akan dibuka jam 6 sore dan waktu itu masih jam 2 siang. Setelah bertemu dengan teman saya, kita putar-putar dulu untuk makan, maklum hari itu diantara kita bertiga tidak ada yang sedang puasa. Selesai makan Demon minta diantar untuk mencari car rambut yang bisa di semprot ke rambut. Dia ingin agar rambutnya bsia berwarna merah sama dengan warna rambut Hayley. Jadilah kami berputar-putar di ancol menggunakan mobil demi mencari cat rambur spray berwarna merah. Ternyata tidak ada yang menjual cat rambut itu didalam ancol, akhirnya kami bela-belain keluar bermacet-macet mendatangi tiap mini market yang ada untuk mencari si cat rambut spray itu. Setelah satu jam berkeliling hingga hampir masuk ke jalur tanjung priok, akhirnya kami menyerah dan kembali ke Ancol tanpa hasil.
Panggung yang dipadang diluar arena konser, untuk band penghibur sebelum gate di buka


Pada saat maghrib, kami masih berada di antrian masuk. Panitia memberikan minuman botol untuk berbuka puasa dan tentunya minuman ini tidak boleh di bawa masuk ke arena konser. Jam 6.30 sore saya sudah berlarian dengan teman saya masuk ke arena konser. Tiket kami bertiga adalah festival A, yaitu daerah depan yang dekat ke panggung. Ternyata saya masih kurang cepat karena hanya mendapatkan barisan ketiga dari baris paling depan, tapi sudah lumayan lah. Ngomong-ngomong ini adalah pengalaman saya nonton konser besar seperti ini. Saya baru tau ternyata berat juga perjuangannya, berhubung badan saya tidak tinggi, agak sulit untuk melihat kedepan, belumlagi berdesak-desakan, diapit orang-orang yang lebih tinggi dari saya. Rasanya bikin sesak napas dan mau pingsan. Parahnya tenyata konser ngaret hingga 1,5 jam, haduhhh konser belum dimulai kepala sudah keleyengan karena berdesakan. Penonton di belakang terus saja mendesak kedepan.
Dan akhirnya, saya melihat Hayley Williams, Taylor York, dan Jeremy Davis keluar ke atas panggung. Wow..!!!! Akhirnya bisa melihat Paramore secara live. Berasa benar-benar tidak percaya, dan musik pun dimulai, semua penonton ikut bernyanyi dengan semangat ‘45. Semakin lama desakan dari belakang semakin besar, badan saya makin tergenjet oleh orang-orang disekitar saya, sampai ada satu moment badan saya tidak menapak tanah karena tergencet orang-orang yang sedang berjingkrak-jingkar sambil mendorong-dorong kedepan. Saat hampir kehabisan nafas karena tergencet tidak lama, cewe di depan saya muntah. Waduh, udah jackpot banget sih ini namanya *sigh*. Akhirnya si cewe ini diangkat oleh petugas keamanan di depan pagar pemisah untuk dikeluaran dari desakan penonton, kemudian tidak lama seorang cewe lain dibelakang saya jatuh pingsan. Wow, ini konser rock memang hardcore sekali, pikir saya, banyak orang bergelimpangan diangkat keluar. Saat cewe yang pingsan dibelakang saya diangkat melewati atas kepala saya oleh petugas keamanan dari depan pagar pembatas, saat itu juga bagian depan saya sedikit bercelah, dan akhirnya dengan sedikit usaha, saya sudah berada di baris terdepan barisan penonton. Wah..!!! Senang sekali rasanya, bisa melihat langsung ke arah Hayley, Taylor dan Jeremy. Semua pusing dan sesak nafas langsung hilang, karena saya sudah dibarisan paling depan seingga tidak ada yang menghalangi saya di bagian depan, dan saya bisa bebas bernafas. Ada 2 hal yang menurut saya menjadi ciri khas tiap konser Paramore yaitu Hayley selalu memperkenalkan bandnya sambil meneriakan kalimat “We Are Paramore…!!!” dan yang kedua tentu saja ciri khas Hayley setiap bernyanyi adalah melakukan headbang.
Headbang yang menjadi ciri khas Hayley

Taylor menggunakan Blangkon yang diberikan oleh salah satu penonton

Semua lagu saya ikut nyanyikan, terus lompat-lompat, lama-lama dehidrasi juga. Untung panitia beberapa kali mempasing aqua gelas dan menyemprotkan air kea rah kami. Saat sudah mulai kepanasan lagi, biasanya penonton akan berteriak “Air…. Air… Air…”. Saya baru mengerti sekarang kenapa penonton yang sering saya lihat di TV sedang menonton sebuah konser Slank sering berteriak minta air ternyata memang panas sekali, dan dehidrasi yang bisa membuat kepala sampai pusing. Walau begitu ada juga beberapa lagu yang dibawakan secara akustik.

sesi akustik, sayang sudah tidak ada lagi Josh Farro di posisi guitar


 Sampai ke bagian akhir, inilah yang ditunggu-tunggu. Saat Hayley akan memilih beberapa penonton untuk naik ke atas panggung. Saya yang berada paling depan tidak mau kalah, loncat-loncat mengacungkan tangan sambil memanggil Hayley agar dipilih naik ke panggung. Yah, apa mau dikata, kelihatannya belum hoki, yang terpilih malah cowo dari deretan tengah dan perempuan dari deretan ujung. Penonton yang tidak kebagian naik kepanggung cuma bisa mupeng aja.
Hayley tampil atraktif, dan komunikatif dengan penonton

Mic berwarna orange wortel yang selalu digunakan Hayley
Over all saya senang sekali bisa melihat secara langsung konser Paramore, dari baris terdepan pula. Tapi yang disayangkan adalah tata panggung yang biasa sekali dan sound system yang kurang keras, sehingga suara Hayley kurang terdengar terkalahkan oleh suara penonton yang ikut bernyanyi. Lagu terakhir adalah lagu wajib yaitu Misery Business, dengan serangkaian kembang api dari panggung.
Selesai konser, baju saya sudah basah tidak keruan. Dan kami keluar dari Ancol setengah 1 malam. Perjalanan belum selesai, karena kami harus mengembaikan mobil dulu ke Bekasi, rumah kakaknya Demon. Di tengah jalan, saya sibuk mengajak ngobrol Demon karena takut dia mengantuk. Setelah beberapa saat, saya ajak ngobrol Demon diam saja, saya yang duduk di belakang kursi supir secara refleks melihat ke arah Demon, yang ternyata tertidur. Ya Tuhan…. Saya langsung teriak ke arah Demon supaya dia bangun. Ini sih sudah bahaya namanya, Demon nyetir sambil tertidur, akhirnya kami memutuskan untuk gantian menyetir, tapi masalahnya temannya Demon bilang dia tidak bisa menyetir, sedangkan saya punya Sim A tapi tidak pernah berani menyetir sendiri. Tapi demi orang-orang ini, akhirnya saya beranikan diri aja membawa mobil ini, sambil benar-benar pelan seperti nenek-nenek menyetir mobil. Untuk jalanan sepi dan tidak lama saya melihat ada McDonalds yang parkirannya tidak begitu ramai. Lega juga, saya bisa parkir dan membawa mereka dengan selamat, berhubung saya ini selalu gagal untuk urusan parkir mobil. Kami pun akhirnya tidur di dalam mobil di parkiran McD, sampai Demon bisa segar lagi untuk membawa kami ke Bekasi dan mengembalikan mobil ini. 



Tuesday, February 26, 2013

My first Snorkeling Experience

Sebagai orang yang engga bisa berenang, wajar saja kalau waktu disuruh nyemplung ke laut sempat ada rasa grogi. Kekhawatiran pertama yang terlintas tentu saja, bagaimana kalau saya tenggelam di laut?! 
Well, at the end I have to face it.

Pengalaman pertama saya snorkeling adalah waktu saya berlibur ke Phuket, Thailand. Selama 2 hari berturut-turut saya mengikuti tour keliling pulau-pulau di sekitar Phuket yang semuanya menyediakan paket snorkeling. Saya pergi ke Phuket dengan 3 orang teman saya lainnya. Ketiga teman saya ini semuanya bisa berenang, tinggallah saya yang bermodal nekat saja. Hari pertama, kapal berhenti di tengah Maya Beach atau orang disana sering menyebutnya Leonardo DiCaprio beach, karena pernah dijadikan tempat syuting The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio tahun 2000 lalu. Pihak kapal sudah menyediakan pelampung dah alat snorkeling untuk masing-masing penumpang. Dari hasil pengamatan saya, banyak orang Asia yang tidak bisa berenang, dibandingkan dengan para bule-bule yang langsung melompat ke laut, bahkan mereka juga membawa balita mereka berenang di laut. Jadi malu sendiri nih, udah umur segini masih belum bisa berenang di laut tanpa pelampung. 

Awalnya saya masih pikir-pikir apakah mau ikut masuk ke laut atau tidak, tapi udah jauh-jauh ke Phuket masa ga snorkeling -___- Akhirnya berbekal nekat dan perlengkapan snorkeling + jaket pelampung, saya lompat ke laut. Dan ternyata jaket pelampung saya kebesaran, dan tali dibagian kakinya sudah tidak ada, jadi pelampung saya naik ke leher tanpa bisa menopang badan saya yang tetep turun ke bawah. Haduhh agak belibet nasib orang yang ga bisa berenang ini. Akhirnya saya naik ke kapal lagi untuk membetulkan jaket pelampung yang seadanya itu dan lanjut berenang-renang di laut.
Di Maya Beach ini, jumlah orang yang masuk ke laut cukup ramai, karena kapal yang dibawa adalah kapal ferry mini. Jadi kalau dilihat dari atas kapal, pemandangannya agak mirip cendol berwarna warni.
Snorkeling di Leonardo Dicaprio Beach / Maya Beach
Hari kedua, saya mengikuti tour Krabi Island, menggunakan speedboat, kami snorkeling di chicken island. Karena menggunakan speedboat, maka jumlah orangnya pun lebih sedikit, sekitar belasan orang saja. Saya sempat membawa biskuit untuk diberikan ke ikan-ikan disana. Saking banyaknya ikan yang bergerombol (schooling fish), saya sampai bisa memegang ikan-ikan itu. Snorkeling hari kedua way better banget lah, dari sisi tempat lebih sepi, ikan lebih banyak, dan pelampungnya masih bagus, jadi saya engga tenggelam lagi karena pelampung yang naik sedangkan badan saya melorot heheheee...


Ikan-ikan kecil akan mendekat kalau kita bawa biskuit atau roti

Area Chicken island jauh lebih sepi dibanding Maya beach yang crowded
Overall, untuk yang tidak bisa berenang seperti saya, tetep bisa snorkeling kok. Cuma pastiin aja pelampungnya dipasang dengan benar. Dan jangan panik.

Selamat Snorkeling. :) 





Monday, February 25, 2013

Ke Taman Safari dengan Angkutan Umum

11 Juli 2012


Sebagai orang luar Jakarta yang kerja di Jakarta, entah kenapa saya ga betah lama-lama di Jakarta. Jadi tiap ada kesempatan libur diluar Sabtu-Minggu, rasanya pengen langsung kabur dari Jakarta. Kesempatan muncul waktu ada pengumuman bahwa kantor akan diliburkan saat PeMiLuKada DKI Jakarta. Libur 1 hari itu tentu salah satu gerbang saya untuk jauh-jauh dari jakarta, tapi karena libur di hari Rabu, tentu sulit menentukan tempat liburannya. Akhirnya saya mengajak teman kosan saya untuk berlibur ke Taman Safari. Saya berangkat bersama 2 orang teman kosan. Tidak adanya diantara kita yang mempunyai transportasi, tidak menjadi masalah, kami tetap go show menggunakan transportasi umum.

Kami berangkat dari stasiun Manggarai menggunakan kereta Commuter line jam 6.30pagi, sampai di stasiun Bogor satu jam kemudian. Untungnya keretanya cukup kosong pada waktu itu jadi kebagian duduk. Dari stasiun kami melanjutkan dengan angkot 03 yang ke arah Baranangsiang. Kita turun di Baranangsiang dan melanjutkan dengan angkot 01 ke arah Ciawi, kita turun di Tajur. Dari Tajur, lanjut menaiki angkot berwarna Biru ke arah Cisarua, berhenti di persimpangan Taman Safari. Kalau ga yakin, tanya aja supirnya biasanya supir-supir disana pasti tau.

Sebetulnya kami mengejar sampai di taman safari pukul 9, begitu buka kami langsung masuk. Tapi apa mau di kata, cacing di perut sudah bikin orchestra karena belum sarapan. Akhirnya kami makan di warung pinggiran dekat Cimori. Begitu perut kenyang, kami lanjutkan perjalanan menggunakan angkot berwarna merah yg membawa langsung hingga ke parkiran taman safari. Sebenarnya banyak juga Ojeg yang menawarkan jasa untuk mengantar ke Taman Safari. Cuma berhubung harga angkot pasti lebih murah, jadi saya pilih angkot aja hehehee...

Rincian Transportasi Keberangkatan:

Jakarta - Taman Safari:

Commuter Line Manggarai - Bogor                          : Rp 7.000,-
Angkot 03 (Bubulak - Baranangsiang) Warna Hijau  : Rp 2.500,-
Angkot 01 (Baranangsiang - Ciawi) Warna Hijau      : Rp 2.500,-
Angkot ke arah Cisarua Warna Biru                          : Rp 4.500,-
Angkot ke Taman Safari warna merah                       : Rp 4.500,-

Dari parkiran, kami harus jalan kaki, awalnya sempat bingung dimana jalur untuk membeli tiket untuk yang tidak membawa kendaraan. Ternyata ada sidewalk yang khusus untuk pejalan kaki. Harga tiket waktu itu Rp. 100.000,- Agak kaget juga sih, karena estimasi kita harga masuk kesana cuma Rp. 75.000,- hahahaa... ternyata harga udah naek. Setelah memiliki tiket, kami diberi tau bahwa tersedia bus untuk mengantar berkeliling Taman safari dan itu gratisss :D 
Di beberapa tempat, bus yang kami tumpangi sempat berhenti cukup lama karena di beberapa area, ada pembatasan jumlah mobil yang masuk dalam jangka waktu tertentu. Hal ini bertujuan agar hewan tidak stres atau merasa terganggu. Taman safari dibagi kedalam beberapa area sesuai habitat asli dari para hewan disana, yaitu Asia, Afrika, Amerika dan Eropa.




Selesai berkeliling dengan bus, kami diturunkan di satu spot pemberhentian. Untuk yang ingin berkeliling dengan menaiki gajah, taman safari juga menyediakan sarana itu, selain itu juga terdapat kereta gantung untuk melihat taman safari dari udara
Dalam satu hari, terdapat beberapa pertunjukan hewan-hewan di Taman safari. Jadwalnya bisa dilihat di brosur yang didapat di pintu masuk saat membeli tiket.
Tempat pertama yang kami masuki adalah kawasan Baby Zoo. Disana kita bisa berfoto dengan anak orang utan, anak harimau putih dan anak macan tutul. Harga untuk sekali berfoto dengan anak orang utan adalah Rp 25.000,- sedangkan untuk berfoto dengan anak macan tutul atau anak harimau putih kita harus membayar Rp 15.000,-
Mendekati jam makan siang, kami berpindah ke kawasan utara, dimana kita bisa memberi makan gajah. Kita bisa membeli wortel yang dijual disana seharga Rp 5.000,-/ ember kecil.
Memberi makan gajah, salah satu pengalaman yang ditawarkan di Taman  Safari
Jika kita terus jalan ke utara, kita bisa menonton pertunjukan harimau yang beratraksi dengan pawangnya. Sayang untuk pertunjukan ini kami terlambat, sehingga tempat sudah sangat penuh dan sulit untuk melihat atraksinya.
Tapi masih ada 2 atraksi lainnya yang kami sempat tonton, yaitu atraksi singa laut dan atraksi burung pemangsa. 
Atraksi Singa laut ini sangat menghibur menurut saya, dan juga atraktif. Singa laut yang sudah terlatih ini bisa melakukan atraksi memasukan bola kedalam keranjang, beris berbaris, melompat untuk mengambil ikan yang ditempelkan ke mulut trainernya. Dan terkadang mereka usil menyipratkan air dari dalam kolam ke para penonton. Sehingga sebagian besar penonton di bagian depan basah terkena cipratan air heheheee...


Atraksi singa laut yang lucu-lucu

Tidak lama setelah pertunjukan singa laut selesai, kami buru-buru untuk menonton pertunjukan burung pemangsa yang tidak jauh dari arena singa laut. Penonton duduk mengelilingi sebuah lapangan cukup luas. Pertunjukan ini juga sangat interaktif dengan penonton. Beberapa kali trainer meminta sukarelawan dari penonton untuk maju kedepan, biasanya yang ditunjuk adalah anak-anak atau remaja. Penonton yang maju kedepan, bisa merasakan pengalaman memberi makan burung secara langsung.
Dan bintang dari acara ini adalah ketika salah satu burung terbesar di spesies burung muncul. Burung itu adalah burung pemakan bangkai, ukuran badannya saja sudah cukup besar, apalagi saat burung ini merentangkan sayapnya, terlihat lebar sekali.
Burung pemakai bangkai, salah satu burung dalam atraksi burung pemangsa


Jika kita berjalan terus ke atas dari tempat pertunjukan burung pemangsa, kita akan menemukan tempat penguin yang sedang berenang-renang di dalam aquarium, terkadang kita juga bisa memberi makan penguin-penguin itu. Di bagian luarnya ada banyak kangguru yang sedang bersantai di lapangan.



Sayangnya waktu saya kesana, bagian kandang komodo sedang dalam perbaikan, jadi saya tidak sempat melihat komodo dari dekat.
Selesai berkeliling kami menumpang bus taman safari untuk diantar hingga ke parkiran. Tapi ternyata parkirannya berbeda dengan parkiran tempat kami datang tadi pagi. Disini tidak ada angkot-angkot penumpang, semuanya hanya mobil-mobil pribadi. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya ke salah satu petugas disana, ternyata untuk sampai ke parkiran yang ada angkotnya, kami harus jalan keluar dulu. Kami disuruh untuk mengikuti tanda penunjuk arah.
Kami kira bakal gampang aja, ternyata sempet nyasar juga karena bingung arah keluar mana yang harus dipilih waktu melewati persimpangan. Tapi ending-nya kami ketemu juga tempat parkirnya, dan angkot-angkot sudah mejeng siap mengangkut penumpang fiuuuhhh...
Kami langsung naek angkot itu dan berhenti di Cimori. Dari Cimori kami naik bus, sebenarnya bisa naek bus apa saja asalkan jurusan ke Jakarta, bus ini tujuan akhirnya di terminal Kampung rambutan. Dari Terminal Kampung rambutan tinggal naik busway aja deh ke tujuan masing-masing. Behubung waktu sampai di Matraman, penuh banget shuttle buswaynya, dan kita udah cape banget, jadi kami memutuskan naek bajaj aja, lumayan bertiga cuma Rp 15.000,- jadi masing-masing bayar Rp 5.000,- aja. Dan akhirnya sampe juga di kosan :)


Rincian Transportasi Pulang:

Taman Safari - Jakarta:
Angkot dari Taman Safari ke Cimori  : Rp 5.000,-
Bus apapun yang menuju ke Jakarta   : Rp 10.000,-
Busway                                             : Rp 3.500,-
Bajaj                                                 : Rp 5.000,-


So total pengeluran hari itu:
Ongkos Pergi       : Rp 21.000,-
Sarapan               : Rp 14.000,-
Tiket Masuk TSI  : Rp 100.000,-
Ongkos Pulang     : Rp 23.500,-
----------------------------------- +
Total                      Rp 158.500,-


NB: Semua harga yang tercantum bisa berubah sewaktu-waktu

Some pictures was taken by @Dewi_3






Thursday, February 21, 2013

They called it Mitu


You know one of so many advantages of traveling is that you can learn and find something new, and that will enhance your knowledge. I’m gonna tell you how I found a fruit that I’ve never seen, or tasted, or heard about it, until that time. 2 years ago, while I was on my way back from my backpacker trip to Bali with my friends. I was on the economic train, and as you know one of the “privilege”  by using economic train is that you will find a lot of huckster. What they sell? Well a lot of things, from meal, snack, fruit, all are original stuff from that place where the train stop.
Me and my friends were on the train from Banyuwangi to Surabaya, when suddenly there’s a middle age woman sell some fruits. We’ve never seen this kind of fruits before. When we ask what the name of that fruit, she said it called Mitu. From the outside it’s like guava, but the texture of its skin is like orange. And the taste of this fruit is like Rambutan or Lengkeng (Longan).
Until now, I’m still craving to taste it again. Unfortunately I cannot find it anywhere, and even most people who I ask about this fruit they have never heard a fruit named Mitu. My mom told me, it might be the same with fruit named Sawo Emas. But she said it’s extinct. :( 

The fruit called Mitu
If anyone know about this fruit maybe you can share the information to me. I just still curious about this fruit J



Out of Luck??


Sometimes, we don’t always get what we want. Exhibit A: last year I went to Kiluan Bay. It’s actually a rural area in southern Lampung. But it’s well known as a beautiful bay where you can see dolphins swimming around you.
Here’s the story, I went there coz I really want to know the sensation to see those dolphins when they come swimming around my boat. Not long before my arrival, the friends of my friend went there, and they saw dolphins plus the whale. How cool is that?!
Anyway, the way to Kiluan is not that smooth, I mean literally because some part just not be asphalt yet. It takes several hours from Karang in Bandar lampung, to Kiluan. I arrived there at night, and I just knew that they don’t have electricity supply. Well they have it only from generator. So the rule is you only get the electricity from the generator start from 6pm until 12am in the mid night. And all the generators will be turned off. I woke up the next morning, and ready to see the dolphin. I walked to the back of the house where I stay last night, not far from there, the bay is waiting. I got into a boat, it’s quite long boat, so slim. I got there with 3 others girls and the fisher man the one that driving boat is keep standing.
It’s so beautiful to see the ocean that early morning. After awhile, all I can see only the blue ocean and the sun is getting higher and hotter. I wonder where are those dolphins at. I turn my head around to see any sound that will sound like dolphins. But nothing. The fisherman told me that usually we already can see those dolphins, a lot of dolphins swimming in group around the ocean.
So the fisherman was went further took us. All I can see is the blue wave, which I won’t be realize either if one of the wave that I saw was a dolphin. Another thing came up in my mind. Man, I’m in the middle of the ocean. And the water must be deep, one thing for sure I cannot swim. Even tough I already wore a life jacket, still I don’t believe that will work. After awhile, we decided to go back to the bay, by going on the circle to see the other side of the island.
Well that might be not my lucky day. I didn't find any dolpin that day. But one thing for sure, I had a great time while I was there, coz I went there with great people J