Tuesday, August 25, 2015

Backpacker dari Jakarta ke Bangkok

Setelah sekian lama baru sempet nulis lagi. Kali ini mau cerita dikit soal jalan-jalan terakhir ke Bangkok. Tiketnya ini kebetulan saya dan temen-temen dapat tiket Promo dari Tiger Air. Tiket berangkat kita sapat harga cuma Rp.1 (muraahhhhh bingiiittssss). Tapi pulangnya dapet tiket yang harga 1,49 juta. DItambah asuransi dan lain-lain jadi total tiket PP Jakarta - Bangkok - Jakarta waktu itu RP. 1.491.001.
Masalah yang buat agak sedikit ribet itu adalah waktu mau buat itinerary, karena saya akan pergi dengan 4 orang teman lainnya dan berada di 3 kota berbeda. Akhirnya itinerary beres seminggu sebelum berangkat, terlalu mepet (jangan ditiru) hehehheee....
Kami rencana berangkat tanggal 13 January 2014, sejak Oktober 2013 kondisi Bangkok memang sudah sering diberitakan kurang kondusif karena adanya demonstrasi anti pemerintah. Tapi saya masih tenang-tenang aja karena saya pikir tidak akan lama juga. Ternyata seminggu sebelum hari H, banyak berita di social media dan media online mengenai rencana pemblokiran Bangkok yang disebut #BangkokShutdown.
Tapi saya tetep posisif thinking.  Saya pikir kan demo bisa kapan saja, paling juga di awal bulan January atau akhir bulan, jadi saya dan temen-temen masih bisa aman pergi ke Bangkok. Eh ternyata engga lama, dapat berita terbaru lagi kalau Bangkok Shut down akan dilakukan tanggal 13 Januari sampai tanggal yang tidak ditentukan kapan. -_______-
Hadeuuhhh... kenapa harus pas juga sih itu tanggalnya sama tanggal kedatangan kami. Demi tau kondisi ter-update disana saya sampai follow @RichardBarrow di twitter. Dia seorang full time travel blogger yang berbasis di Bangkok. Menurut Richard kondiai akan aman walaupun banyak jalan yang akan di tutup.
Sesampainya di airport Suvarnabhumi kami memilih naik taxi karena kami belum tau arah ke hostel. Karena kami berlima, taxi yang digunakan juga adalah mobil xenia. Harga taxi 700bath, sudah di tetapkan dari awal.
Begitu memasuki jalan utama kota Bangkok, ternyata sudah banyak jalan yang ditutup oleh para demonstran.
Akhirnya supir taxi kami harus mencari jalan putar menuju hostel. Sampai di hostel staff hostel yang sebelumnya sudah saya tanya-tanya mengenai kondisi Bangkok menanyakan rencana kami besok.
awalnya rencana saya adalah ke Pattaya seharian dan malamnya melihat pertunjukan Ladyboy, tapi memingat kondisi yang kurang kondusif, staff hostel menyarankan agar tidak ke luar Bangkok hingga malam dikarenakan kemungkinan akan sulit kembali ke Bangkok karena jalan yang di tutup.
OKE !! jadi malam itu juga ganti itinerary, besok pagi kami akan keliling di Bangkok saja sambil berharap jalanan yang akan kami lewati tidak di tutup juga.

Dengan bermodal peta yang kami dapat dari bandara dan hostel, rute kami yang sebetulnya adalah Grand Palace, untungnya lokasi hostel kami ke komplek candi bisa di tempuh dengan berjalan kaki kira-kira kurang dari setengah jam. 
Lokasi antar Wat tidak terlalu berjauhan
Setelah jalan beberapa lama, kami sadar kayanya kami nyasar deh kok engga ketemu ya Grand palace nya... hadeuuuhh..
Selama berjalan, saya perhatikan bangunan - bangunan sepanjang jalan dengan atap khas bangunan Thailand. Saat sedang panas-panas, ada tukang jual es. Sebenarnya awalnya saya engga tau bapak ini jual apa, tapi karna beberapa orang beli saya ikut beli juga karena penasaran.
Ternyata itu adalah es vanila yang di campur dengan kolang kaling, bisa di tambah taburan meses atau keju. Lumayan untuk menghilangkan panas di badan heheheee...
Es penyelamat dari panas, ga tau lupa namanya hehehee....

jalan menuju Wat Pho
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya kami menemukan rombongan yang kami kira akan menuju ke Grand Palace, jadi kami ikuti, ternyata kami berakhir di depat sebuat wat, yaitu Wat Pho hahahaa...
Berhubuing Wat Pho juga ada dalam daftar Wat yang akan kami kunjungi, jadilah lokasi pertama yang kami datangi adalah Wat Pho !!!

Wat Pho

Tiket masuk ke Wat Pho sebesar 100 bath, dan sudah termasuk free drink (air mineral ukuran kecil). Yang terkenal dari Wat Pho ini adalah adanya patung Budha Tidur yang panjaaaaaaang sekali dengan ukuran panjang 46 meter dengan tinggi 15 meter.
Tiket masuk Wat Pho + free drink
Di sepanjang dinding dari bawah sampai ke dinding atas, semua penuh dengan lukisan yang memiliki cerita tentang kehidupan Budha. Selain itu juga terdapat jejeran panjang mangkok tembaga berisi koin-koin. Di luar Wat, kita bisa membeli sekantung koin untuk di masukan satu per satu ke deretan mangkok yang berjejer itu. Jika jumlah koin yang kita punya dari jumlah mangkok artinya kita akan beruntung, dan sebaliknya.
Saking panjangnya, susah untuk memotret keseluruhan patung Budha ini
salah satu lukisan di dinding yang menceritakan kehidupan Budha
Setelah puas melihat-lihat Wat Pho, kami melanjutkan ke Wat Arun. Untuk mencapai Wat Arun kita harus naik kapal dari Tha Tier dan menyebrangi sungai Chaopraya. Kita hanya perlu membayar 3 bath. 

Wat Arun (The Temple of Dawn)

Komplek percandian Wat Arun lebih luas dibandingkan dengan Wat Pho, dari candi terbesar terdapat juga candi-candi lainnya yang lebih kecil. Tiket masuk ke Wat Arun sebesar 50 bath. Beberapa relief yang saya kenali bentuknya adalah burung garuda, yang menjadi simbol negara Thailand. 

Candi utama Wat Arun adalah candi tertinggi di antara candi di sekelilingnya, jika kita mendaki ke puncak kita dapat melihat pemandangan sekeliling wat Arun yang dikelilingi oleh sungai Chaopraya. Perlu diingat tangga untuk mencapai puncaknya cukup curam, jadi perlu hati-hati waktu naik dan turunnya. Kalau perlu bawa sun glasses dan topi juha heheeee soalnya matahari terik banget kalau sudah di atas.
pemandangan dari puncak Wat Arun
Sebetulnya Wat Arun terkenal dengan pemandangannya di waktu sunset,  tapi berhubung waktu kami terbatas, jadi kami cukup puas dengan berjalan -jalan di Wat Arung pada siang hari.
Saat berjalan di sekitar kursi-kursi yang disekitar komplek candi, saya tidak sengaja menemukan patung 3 wise monkey, dimana 3 monyet ini mungkin mempunyai pose masing - masing. Yang pertama menutup mulut, yang kedua, menutup telinga, yang ketiga menutup mata. Arti dari 3 patung ini adalah " see no evil, hear no evil, speak no evil". Walaupun 3 patung ini kelihatannya hanya milik salah satu toko yang berada di kompleks candi, tapi tetap berasa pas dengan nuansa lingkungan candi.
3 wise monkey
Tujuan selanjutnya setelah berkeliling di Wat Arun sebetulnya kami ingin menuju ke China Town nya sekalian mencari makan. Dari wat arun kami kembali menyebrang ke Tha Tier (3 bath), kemudian naik kapal yang lebih besar ke Rachawongse pie (40 bath). Dari pelabuhan kami berjalan kaki ke China town.
Di pinggir jalan ada pedagang yang jaul air sari buah delima, segeerrrrrr banget. Tidak jauh dari sana saya juga mencoba jajanan yang mirip ciwel kalau di Indonesia, disana bentuknya panjang-panjang dan di atasnya diberi taburan wijen, jajanan ini juga enak, sayang saya tidak tau namanya soalnya penjulanya tidak bisa bahasa inggris.
Jajanan Bangkok
Siang itu kami makan di KFC terdekat. Karena sudah terlalu lapar jadi tidak ada tenaga cari tempat makan lainnya, waktu itu menu KFC yang saya pilih harganya 89 bath. Sepanjang jalan mulai banyak mobil-mobil yang akan pergi berdemo ke MBK.
Tujuan kami selanjutnya adalah memang akan ke MBK dan kemudian akan mengunjungi museum Madame Tussauds.
Kami naik taxi berlima awalnya menuju halte taksin, tapi supir taxi menurunkan kami di halte selanjutnya setelah halte taksin. Halte ini halte terdekat menuju halte stadium, karena supir taxi tidak berani membawa kami kesana akibat banyak jalan di blok oleh pendemo. Kami membayar biaya taxi 200 bath (40bath/orang). Kemudian kami lanjut naik skytrin menuju halte stadium(34bath) dan ini pengalaman pertama membeli tiket skytrain yang menggunakan mesin heheheee... berasa katro.
Para demonstran beberapa menginap dan membuat tenda
MBK

Kami tiba di Halte Stadium yang ternyata terletak tepat di depan MBK. Dari jembatan kami melihat ke bawah di depan MBK dan jalan sekitarnya sudah penuh dengan para demonstran. Tapi yang membuat terkesan adalah, demonstrasi ini berjalan damai, bahkan lebih terkesan seperti sedang ada festival. Mereka ada panggung, dan ada musik juga, bahkan banyak penjual yang menjual baju-baju shut down bangkok di pinggiran jalan. Kami ikut beli dan pakai baju itu juga supaya membaur dengan pendemo yang lain sekalian seru-seruan aja. Kaos Shut down bangkok kami dapat dengan harga 100 bath setelah di tawar.
Walaupun diluar MBK sudah penuh dengan ribuan orang pendemo, tetapi MBKnya sendiri tetap buka, malahan saya sempat beli dompet disana isi 4, dari harga 250 bath bisa dapat 100 bath. Saya juga beli cermin dengan motif khan Thailand dari harga 199 bath bisa dapat jadi 150 bath. Intinya tawar semua barang sebelum di beli.
cermin dengan gambar khas Thailand
Museum Madame Taussads

Museum Madame Taussads berada di Siam Discovery (lantai 6), dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari MBK. Sebelumnya kami sudah memesan tiket secara online, kaerna harganya lebih mudar dibanding engan memesan secara langsung. Untuk pemesanan online dilakukan menggunakan Kartu kredit, sehingga waktu sampai di Madame Taussads, kita harus memperlihatka kartu kreditnya atau  jika Kartu kredit tidak bisa di bawa, kita juga bisa membuat surat pernyataan pengganti kartu kredit.  Di web di infokan bahwa jam tutup museum ini jam 9 malam, tapi saat kami kesana, ternyata mereka akan tutup jam 6.45 malam, akibat sedang ada demonstrasi.
Di Museum Madame Taussads, banyak sekali patung-patung lilin yang mirip tokoh aslinya, bahkan ada patung presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Pokoknya disana puas-puasin fot-foto sama orang-orang terkenal yang belum tentu kita ketemu aslinya heheheee...
patung lilin Katy Perry
Kami berencana pulang menggunakan skytrain dari Halte Siam, dan ternyata penuhhhhhhhh sekali karena faktor demonstrasi. Kami mencari di peta apakah ada skytrain yang melewati Khaosan road, ternyata Skytrain maupun BTS tidak ada yang lewat ke Khaosan road. Kami mencoba bertanya pada orang di sana, tapi agak sulit mendapatkan jawaban yang jelas karena mayoritas tidak mengerti bahasa inggris.
Lagi bingung mau tunggu skytrain atau pindah halte dengan jalan kaki, tidak di sangka bertemu orang Indonesia, dia solo traveler dari Aceh. Saat bertemu kami, dia ditemani solo traveler lainnya asal Cina. Setelah berkenalan, akhirnya kami memutuskan untk bersama-sama jalan ke halte selanjutnya yang tidak terlalu penuh.
Kami sampai di Halte Dhardamri dan naik skytrain sampai ke halte Surusak. Dari Surusak kami berpisah jalan dengan 2 teman yang baru kami kenal ini, kami meneruskan dengan naik taxi sampai ke Grand Palace, karena supir-supir taxi tidak ada yang berani untuk mengantar ke Khaosan Road akibat banyak jalan yang di blok. 
Khaosan Road, pusat para backpacker di Bangkok
Dari Grand palace kaki berjalan kaki ke Khaosan road, sekalian isi perut dengan Pad Thai yang berada di kawasan Khaosan road, enaakkk banget Pad Thai nya, saya memesan pad thai ayam + telor seharga 40 bath. Kami juga sempat berjalan-jalan melihat-lihat kawasan Khaosan yang mirip seperti pasar malam. Ada beberapa gerobak yang menjual serangga goreng (untuk menggambil foto saja harus bayar). Ada juga yang menyediakan jasa pembuatan fake ID, atau SIM palsu. Sepertinya kawasan Khaosan ini memang serba ada untuk memudahkan para turis baik legal maupun dengan cara ilegal.
Jasa pembuatan ID
Hari ke-2

Pattaya

Hari ke-2 kami berencana ke Pattaya, walau sudah dilarang oleh pemilik hostel karena menurutnya kurang aman di tengah demo, kami positif thinking saja dan tetap pergi kesana menggunakan bus. Kami sudah merencanakan pergi dari pagi-pagi sekali, tapi karena ini dan itu, akhirnya ngaret sampai jam 9 pagi kami baru berangkat dari hostel. 
Kami naik taxi menuju terminal Ekamai (taxi argo 129 bath). Dari Terminal Ekamai kami naik bus ke Pattaya 128 bath selama 2 jam.  Dari terminal Pattaya, kami masih harus naik tuktuk ke Pattaya beach (30 bath/orang).
Tiket bus menuju Pattaya
Suasana di Pattaya berbeda dengan Bangkok, karena Pattaya benar-benar di pinggir pantai, rasanya lebih mirip kalau kita ke Bali.
Sampai Pattaya beach, kami langsung makan siang, belum lengkap kalau ke Thailand tapi belum makan Tom Yam nya, harganya lumayan mahal juga sih, mungkin karena porsinya besar, tom yam yang saya pesan seharga 180 bath, di tambah nasi 25 bath, dan cah kangkung 90 bath.
Disekitaran Pattaya banyak juga yang menjual souvenir-souvenir.
Sebetulnya kami ingin ke lokasi yang ada papan besar bertuliskan Pattaya, tetapi karena waktunya sudah mepet, dan kami harus segera kembali ke terminal akhirnya kami foto dari jauh saja deh... hiks..
cuma bisa foto dari jauh Pattaya board-nya  :( 

Kami kembali naik tuktuk ke terminal seharga 40 bath/ orang, waktu saya tanya kenapa harganya lebih mahal 10 bath di banding ongkos dari terminal ke Pattaya, menurut si supir karena jalan pulang menuju terminal lebih memutar jadi lebih jauh. Engga tau juga sih dia jujur atau bohong, tapi karena sudah buru-buru kami tetap naik juga.
Kami naik bus dari terminal Pattaya ke Airport Suvarnabhumi seharga 250 bath.
Perjalanan pulang ini juga sempat terjadi beberapa incident, diantaranya dompet salah satu teman saya adayang hilang, sepertinya mungkin terjatuh di Tuktuk, karena saya sudah melapor ke pihak bus dan mereka melakukan pencarian, ternyata tidak ada dompet jatuh di bus.
Selain itu kami hampir tertinggal pesawat, karena terlambat saat boarding. Tapi untungnya kami masih bisa kembali dengan selamat hahahhaaa... fiuuuhhh

Tengah malam kami sampai di Bandara, karena sebelumnya kami memparkir inapkan mobil kami, jadi kami tinggal sampai petugas parkir inap di bandara Seokarno hatta, dan dia akan datang menjemput untuk membawa kami ke tempat parkir mobil kami.
Waktu itu biaya parkir inap kami selama 2 hari 3 malam sekitar 230ribu.

9 comments:

  1. Mantap.. Kalo pergi lagi boleh ikut? backpackers Rame2 haha

    ReplyDelete
  2. Mantap.. Kalo pergi lagi boleh ikut? backpackers Rame2 haha

    ReplyDelete
  3. punten mau tanya, saya akan melakukan backpacker murmer ama temen saya beberapa bulan lagi, baru cari referensi destinasi sama budget. jika saya hanya membawa 2 jt rupiah (no hotel, no tiket pesawat) untuk transport, makan, dan keperluan yang lain disana apakah mencukupi?



    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo,
      Untuk 2 juta bisa cukup untuk 3-5hari.
      Asal ga pakai belanja-belanja. Cara supaya murah usahakan naik mass transportation, kalaupun naik taxi usahakan minimal dengan teman-teman supaya bisa share cost.
      Sebelumnya pastikan dulu temoat wisata mana yang mau di kunjungi untuk tau estimasi tiket entry nya. :)

      Delete
  4. punten mau tanya, saya akan melakukan backpacker murmer ama temen saya beberapa bulan lagi, baru cari referensi destinasi sama budget. jika saya hanya membawa 2 jt rupiah (no hotel, no tiket pesawat) untuk transport, makan, dan keperluan yang lain disana apakah mencukupi?


    ReplyDelete
  5. Ayooo yg mau k bangkok dlm waktu dekat gue ikut gabung dong 081319507285 tq..

    ReplyDelete