Wednesday, August 26, 2015

Dieng, Here we come !!!

Mei 2014

Ini sebenarnya catatan perjalanan tahun 2014 kemarin, saat saya dan teman-teman pergi ke Dieng. Saya berangkat dengan menggunakan bus menuju Wonosobo dari Jakarta. Bus yang saya gunakan adalah Sinar Jaya yang lokasi poll nya ada di Jalan Pemuda No.7 Rawamangun, letaknya sederetan dengan Rabani, sebelah Bank Mega Syariah, sebelum lampu merah Sunan Giri. Malam sebelum keberangkatan saya sempat datang untuk booking keberangkatan besok sorenya. Tapi ternyata poll sudah tutup dan saya diberi contact 021-93553509. Lalu saya telpon langsung untuk booking lewat telpon, dan ternyata bisa... fiuuhhh..
Hari H nya saya datang untuk membayar tiket seharga Rp.85.000/ orang, saya berangkat dari Jakarta bersama 1 orang teman. Sebetulnya jadwal berangkat bus adalah jam 5 sore tapi ternyata ngaret menjadi jam 6 sore baru bus berangkat dari Rawamangun.
Rencananya saya akan bertemu dengan 4 orang teman saya yang lain di Bandung, mereka akan pergi dari Bandung dengar kereta ekonomi ke Jogja, dan dari Jogja mereka sewa mobil untuk di bawa ke Wonosobo.
Bus saya tiba di terminal Wonosobo pukul 9.15, sementara teman-teman saya yang pergi menggunakan kereta dari Bandung jam 8.30 malam, sampai di stasiun Lempuyangan jam 5 pagi, kemudian lanjut dengan mobil swaan berangkat jam 6.30 sampai di terminal Wonosobo jam 9.10 pagi.
Berbekal GPS kami menuju ke pegunungan dieng, walau saat sudah makin naik, sinyal provider saya sudah hilang total. Ternyata memang di Dieng hanya ada 1 provider yang sinyalnya bisa diterima. Anyway, awalnya kami akan menginap di Home stay Bu Djono, karena itulah tempat yang paling sering di review di blog-blog yang pernah saya baca. Tapi saat kami akan booking, ternyata sudah full booked. Akhirnya teman saya menemukan rumah yang disewakan, dengan harga Rp. 300.000 kami mendapat 1 ruang tamu, 2 kamar, ruang tv (ada ekstra kasur lipatnya juga), ada TV juga, dapur, kamar mandi dengan air hangat, dan dapat welcome drink juga. Tempatnya sangat memuaskan, dan di depan pintu penginapan langsug terpampang kebun kentang. Membuat mata segerrrr, lihat yang ijo-ijo hehehee... Contact person homestay Kates : 085328968900, yang punya rumah juga ramah banget, pokoknya recommended lah.

pemandangan dari depan homestay Kates
Kami tiba di homestay hampir jam makan siang, jadi kami putuskan untuk makan siang di homestay Bu Djono yang memiliki kantin danjaraknya tidak jauh dari homestay. Waktu itu Homestay Bu Djono adalah satu-satunya homestay yang menyediakan wifi. Jadi sambil isi perut sambil check in di medsos mumpung ada wifi heheheee...
Homestay Bu Djono yang legendaris hehehee...
Selesai makan tujuan pertama kami adalah ke telaga warna, oh iya tadinya kami ditawari untuk menggunakan jasa guide seharga Rp. 100.000/hari, jadi kami putuskan tidak memakai guide utuk hari pertama ini, lumayan bisa irit Rp.100.000.
peta Dieng Plateau
TELAGA WARNA

Di pintu masuk ke kawasan wisata Dieng, kami membayar tiket masuk paket wisata dieng seharga Rp.18.000 untuk turis lokal dan untuk turis luar negeri harganya lebih mahal, cuma saya lupa harganya berapa. Tujuan pertama Telaga Warna, di pintu masuk ke telaga warna kita harus bayar Rp.2000 lagi. Di area telaga warna kami melihat-lihat dah foto-foto, tiba-tiba ada seorang bapak yang menawarkan untuk membantu mengambilkan foto kami semua, dan menawarkan jasa guide, 35ribu untuk seharian berkeliling dieng. Lumayan murah karena kami berenam, harga 35ribu jadi tidak terlalu berasa, selain itu guide kami ini juga tau banyak sejarah lokasi di sekitar Dieng, jadi kami bukan hanya melihat-lihat, tapi juga mengetahui sejarah tiap tempat yang kami lihat. (Walaupun sebenarnya di tiap tempat sudah diberi papan petunjuknya sih, tinggal baca aja heheee )
Seperti Telaga warna, dari guide ini kami tau bahwa telaga warna ini bisa berubah warna sampai 5x, tergantung dari pantulan matahari. Kita juga harus hati-hati jangan sampai jatuh ke dalam telaga warna ini karena kedalamannya dari 2 meter-20 meter, dan ada lumpur hidupnya. Tidak ada ikan yang hidup di telaga warna, binatang yang suka kita lihat disekitar sana banyaknya burung belibis.
Telaga Warna
BATU TULIS

Dari telaga warna kita berjalan kaki menuju Batu Tulis, Dalam perjalanan menuju batu tulis kita melewati Telaga Pengilon (Telaga Cermin), disebut telaga cermin karena saat kemarau telaga ini akan memantulkan gambar sekitar seperti cermin. 
Kami tiba di Batu Tulis yang di depannya terdapat patung emas membawa godam. Batu tulis ini adalah batu besar diantara Telaga warna dan Telaga Pengilon. 
Patung di depan batu tulis
Beberapa orang yang masih menganut kepercayaan, biasanya datang ke Batu tulis ini dan membuat permohonan, bahkan ada yang percaya kalau ada anak yang susah untuk belajar membaca dan menulis, perlu di bawa kesini dan meminta permohonan disini kemudian pulang dari sana akan langsung bisa membaca tulis. Namanya juga kepercayaan,boleh percaya boleh engga kan.
Sepanjang perjalanan menuju goa-goa yang lain, kita akan melihat pemandangan pohon akasia yang tinggi di sekitar kita.
pohon akasia sekitar dieng
GOA SEMAR

Goa selanjutnya yang kami datangi adalah goa semar. Goa semar merupakan goa tertua di Jawa dan Bali dan menurut guide kami, biasanya calon presiden suka ada yang datang ke goa ini sebelum mencalonkan diri. ( ga tau juga bener atau engga ya heheheee...)
Goa Semar
Goa pengantin
GOA PENGANTIN

Tidak jauh dari goa semar, terdapat goa pengantin yang jalan masuknya sangat sempit. Kalau tidak ada papan penunjuknya mungkin saya tidak akan sadar ada goa di bawah sana. Menurut kepercayaan sebagian orang, lokasi ini sering didatangin orang yang mau minta jodoh. Tapi dari pada musyrik mintanya langsung ke Tuhan aja lah ya.

Goa sumur
GOA SUMUR

Berjalan lebih ke atas lagi, kita akan menemukan gua sumur. Didepannya terdapat patung wanita yang membawa kendi. Tapi kami tidak bisa masuk ke dalam karena pagar besinya di kunci, dan lokasi hanya di buka untuk upacara Mabakti oleh juru kunci. Air di dalam goa sumur ini juga di percaya bisa membuat awet muda dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

GOA JARAN

Goa terakhir yang saya lewati adalah goa jaran (Jaran adalah bahasa jawa untuk kuda). Kenapa di sebut goa jaran? Karena di dalam goa terdapat batu yang berbentuk seperti kuda. Menurut mitos dulu ada prajurit dan kudanya yang pergi berperang dan bersembunyi didalam goa, entah bagaimana jaman dulu kan jaman mistis, sampai akhirnya kuda itu berubah menjadi batu di dalam goa. kalau berjalan ke atas lagi kita akan melihat lubang sebesar lubang kelinci di bagian bawah batu besar. Menurut guide kami, itu adalah jalan tembusan dari goa jaran. Menurut akal sehat pasti tidak mungkin orang berjalan di goa jaran yang sempit dan keluar dari lubang kecil di bagian lain goa. Tapi menurut guide kami lagi, orang jaman dulu itu sakti-sakti, jadi yang menurut orang jaman sekarang tidak mungkin, di jaman dulu mungkin saja terjadi.
Batu yang berbentuk keoala kuda di dalam goa jaran
DIENG PLATEAU THEATER

Setelah puas berkeliling melihat telaga warna dan goa-goa di sekitar telaga warna, akhinya kami lanjut ke lokasi lain. Tujuan selanjutya adalah ke Dieng Plateau Theather, untuk masuk kesini tidak perlu bayar lagi karen asudah termasuk dari tiket lanjutan di awal. Disini kita bisa menonton di ruang seperti bioskop yang menjelaskan sejarah terjadinya pegunungan dieng, dan fakta-fakta mengenai Dieng yang belum kami ketahui. Tenyata tahun 1979 di Dieng pernah terjadi bencana kematian masal akibat adanya erupsi di bagian barat daya Dieng dan juga mengeluarkan gas CO2. Masyarakat berbondong menjauhi daerah erupsi, mereka tidak tau bahwa gas CO2 yang terbawa angin ke arah sebaliknya, sehingga banyak yang orang yang meninggal dalam perjalanan. Gas CO2 yang keluar dari salah satu kawah, dan karena gas CO2 tidak berwarna dan berbau, banyak yang meninggal akibat keracunan tanpa mereka sadari.
Selain itu juga saya jadi tau bahwa di Dieng sekitar September-October biasanya suhunya akan dangat dingin, sampai di pagi hari kita bisa mellihat embus yang sudah menjadi es di daun-daun sekitar dieng. Keren ya, berasa di luar negeri kayanya.
Di luar sieng plareau theater ada warung-warung yang menjual cemilan khas Dieng, seperti kentang goreng dieng (kentang dieng nih hits banget), ada juga jamur goreng yang besar-besar enakkkkkkkkk...

BATU PANDANG

Dari dieng plateau theater, kita bisa menuju batu pandang dengan berjalan kaki. Lokasinya agak menanjak sih, tapi worth it banget begitu sampai diatas melilhat pemandangannya. Untuk ke batu pandang kita harus membayar Rp.3.000. Disana ada 2 spot untuk foto, yang paling terkenal itu spot foto yang di belakangnya terdapat danau 2 warna. Sedangkan spot foto 1 lagi menurut saya terlalu berbahaya karena terlalu tinggi dan terjal, salah langkah sedikit bisa lewat dehhh. Sayangnya waktu kami akan foto group hasilnya kurang bagus, karena kamera hp saya kena minyak goreng dari jamur goreng yang tadi kita makan di bawah T_T
pemandangan dari batu pandang
gambar blur akibat kamera kena minyak goreng dari jamur goreng hahahaaa....
KAWAH SIKIDANG

Setelah puas lihat-lihat dan foto-foto di batu pandang, kami menuju kawah sikidang. Sikidang sendiri berarti anak kijang, dan karena gas panas yang keluar dari tanah di kawah tersebut selalu berpindah-pindah seperti kijang karena itu disebut oleh masyarakat sekitar sebagai kawah sikidang. Di arah masuk banyak orang yang menjual masker, karena bau belerang yang menyengat. Untung saya sudah sedia masker sebelumnya, tapi kalau kuat tanpa masker juga engga apa-apa. Di kawah sikidang ini ada beberapa lokasi yang kita juga bisa rebus telur sampai matang, saking panasnya.
Daerah kawah ini berbatu, seperti kawasan kawah-kawah pada umumnya. Kawah utamanya di pagari oleh pagar bambu, sebagai pembatas.

Kami kembali ke hostel sebelum maghrib. Udara sore di daerah dieng sudah cukup dingin, membuat malas bergerak dan ngantuk. Tapi kami masih sempat pergi keluar lagi untuk mencari makan malam. Saya penasaran mencoba mie ongklok yang terkenal dari kawasan Wonosobo, sebuah warung mie ongklok ada di sebrang homestay Bu Djono, seporsi cuma Rp. 7.000 sudah termasuk 1 tusuk sate ayam. Kalau mau tambah sate ayam lagi harganya Rp. 1.000/ tusuk. Kami mencoba makan disana, tapi karna masih lapar dan satenya juga sudah habis akhirnya saya ketemu tempat sate lainnya. Mungkin faktor udara dingin jadi makannya banyak (*padahal engga dingin juga makan tetep banyak :p )

Hari ke-2

PUNCAK SIKUNIR

Kami bangun jam 3 pagi, dan jam 3.30 subuh kami sudah berada di dalam mobil menuju sikunir. Untuk masuk Sikunir, kami membayar Rp.5000/orang. Kami tiba di parkiran jam 4 subuh. Dari tempat parkir kami masih harus berjalan kaki ke puncak Sikunir selama 30 menit. Di puncak Sikunir banyak terdapat penjual yang menjual kentang goreng dieng dan minuman hangat.
langit sebelum matahari terbit, bulannya masih keliatan
Gunung sindoro keliatan dari puncak Sikunir
Di puncak sikunir tersedia kursi-kursi dari kayu yang melindang berundak. waktu itu matahari agak tertutup awan jadi saya tidak melihat saat matahari terbitnya, tapi mendekati jam 5 matahari sudah mulai terlihat jelas. Kami kembali turun ke parkiran jam 6 pagi. Di tengah jalan saya mendengar suara-suara musik, ternyata ada pertunjukan tarian daerah di jalan menuju puncak sikunir. Niat banget ya, salut, pagi-pagi sudah perform dengan pakaian tari lengkap, di jalan yang tidak rata pula.

DANAU CEBONG


danau cebong
Di jalan turunan menuju parkiran saya melihat ada danau, yang ternyata merupakan danau Cebong. Dan letaknya tepat di depan parkiran, karena semalam masih gelap saya tidak tau bahwa di depan parkiran adalah danau. Di pinggir danau banyak terlihat tenda-tenda berwarna-warni dari orang-orang yang camping. Pemandangan di sekitar danau ini membuat tenang, jadi pengen lama-lama diem di pinggir danau.
pemandangan si pinggir danau cebong
CANDI ARJUNA, SETIAKI, BIMA, GATOTKACA

Kami melanjutkan ke lokasi candi-candi yang ada di Dieng. Untuk masuk ke kawasan candi ini kita tidak perlu bayar lagi, karena masih termasuk dari tiket terusan yang hari sebelumnya sudah di beli di awal. Candi yang kami lewati pertama kali adalah candi Arjuna. Tidak jauh dari candi arjuna kita bisa melihat komplek candi setiaki. Saat saya kesana, saya tidak ke candi bima karena sedang di pugar sudah 2 tahun belum beres. Pemandangan di sekitar candi benar-benar breath taking, hamparan hijau bukit-bukit, membuat mata jadi kinclong melihatnya. Cocok dengan asal nama Dieng yang berasal dari kata Di Hyang yang berarti Khayanangan.
Ada 1 kawasan candi lagi yaitu candi gatot kaca, untuk menuju kesana kita harus berjalan melewati jalan yang di kanan kirinya di tumbuhi pohon-pohon pinus. Pokoknya seperti sedang berjalan di taman.

candi arjuna

komplek candi setiaki

Candi gatot kaca
Perjalanan di dieng berakhir di candi-candi ini, kami pun pulang ke penginapan, oh iya kami sempat beli oleh-oleh juga berupa purwaceng, dan carica (manisan pepaya khas wonosobo). Dalam perjalanan pulang saya sudah memasukan list untuk mengunjungi tempat mie ongklok yang terkenal yaitu Mie ongklok Longkrang.

MIE ONGKLOK LONGKRANG

Kenapa saya masukan mie ongklok longkrang ke dalam list tempat yang harus di datangi waktu ke Wonosobo, karena mie ongklok ini sudah legendaris banget, bahkan Pak SBY aja salah satu orang yang suka dengan mie ongklok longkrang ini. 

Alamat mie ongklok longkrang ini di Jalan Pasukan Ronggolawe No. 14, Wonosobo. 
Tlp: 0286-325286, 
Buka dari jam 10.00 - 19.00 setiap hari. 
Dengan berbekal GPS dari hp teman yang dapet sinyal dan tanya orang dijalan, akhirnya ketemu juga lokasi mie ongklok longkrang ini... Horeeeee !!! 

seporsi mie ongklok yang enak banget
Waktu saya sedang memesan ternyata da juga rombongan dari luar kota yang memesan mie ongklok untuk di bawa pulang ke luar kota. Dan sepertinya karena sering ada pesanan dalam jumlah besar, di daftar menunya saja ada harga untuk porsi puluhan, mungkin supaya tidak usah repot-repot hitung di kalkulator.
Daftar harga di menu
Setelah kenyang makan mie ongklok plus pesan sate untuk di bungkus buat cemilan di jalan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Jogja. Karena sempat nyasar dalam perjalanan menuju Jogja, saya dan teman saya hampir tertinggal kereta, untungnya kami tiba 1 menit sebelum kereta berangkat... (nyaris banget...) Saya menggunakan kereta Ekonomi dari stasiun lempuyangan jam 6.37 sore, dan tiba di stasiun Senen jam 5 subuh. Sampai di kosan langsung lanjut siap-siap ke kantor Zzzzz... 

Overall, perjalan ke Dieng ini worth it banget, cukup untuk mencharge semangat lagi setelah terus-terusan kerja. Kapan-kapan pengen kesini lagi, mungkin dengan waktu yang lebih santai dan lebih lama. :)






No comments:

Post a Comment